|
Nasional
Departemen Pertanian Kekurangan Dokter Hewan Untuk Atasi Anthrax
Sabtu, 06 November 2004 | 04:52 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Departemen Pertanian kekurangan dokter hewan untuk mengendalikan penyakit anthrax di seluruh Indonesia
Menurut Dirjen Bina Produksi Peternakan Wasito saat ini pusat kesehatan hewan (Puskeswan) di seluruh Indonesia ada sekitar 435. Namun, dari jumlah tersebut hanya tersedia 226 dokter hewan.
“Padahal idealnya setiap Puskeswan harus ada 1 dokter hewan dan dua mantri," kata Warsito dalam jumpa pers di Departemen Pertanian Jakarta.(4/11)
Kekurangan tenaga ahli tersebut, lanjutnya, tidak dipenuhi oleh pemerintah. Hal itu terlihat dari formasi perekrutan calon pegawai negeri sipil saat ini. Kebutuhan dokter hewan tiap kecamatan itu seharusnya ada 3 orang.
Saat ini, kata dia, langkah-langkah yang diambil Departemen Pertanian untuk menanggulangi penyebaran anthrax antara lain adalah menutup wilayah (isolasi) terhadap lalu lintas ternak ruminansia dan produknya, pemusnahan kandang dan ternak yang terjangkit berikut kompensasinya, pemberian antibiotik untuk ternak di sekitar lokasi kejadian, vaksinasi dan penyisiran ulang terhadap hewan yang rentan anthrax, sosialisasi dan penyuluhan kepada masyarakat dengan melibatkan tokoh masyarakat, tokoh agama, LSM dan mahasiswa.
Vaksin anthrax yang disediakan pemerintah pusat sebanyak 30.000 dosis dan 20.000 dosis sedang dalam proses produksi. Untuk provinsi Jawa Barat telah didistribusikan sebanyak 150.000 dosis, sedangkan kebutuhan sisanya sebanyak 52.500 dosis akan dicukupi oleh APBD provinsi.
Mengenai penanggulangan wabah flu burung (Avian Influenza/AI) akan diberikan dana bantuan kompensasi oleh pemerintah dalam 2 tahap. Realisasinya telah diberikan kepada 2.138 petani peternak di 19 kabupaten dengan senilai Rp 6,9 miliar. Sedangkan yang masih dalam proses, akan diberikan kepada 756 petani peternak di 12 kabupaten/kota dengan nilai kompensasi sebesar Rp 4,6 miliar. asep yogi junaedi
INDEKS BERITA LAINNYA :
|