|
Nasional
Depag: Ponpes Ngruki dan Tenggulun Tak Terkait Jaringan Internasional
Kamis, 04 November 2004 | 22:20 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Pondok Pesantren Islam Al Mukmin Ngruki, Sukoharjo, Surakarta, Jawa Tengah pimpinan Abu Bakar Baasyir dan Pondok Pesantren Islam Al Islam Tenggulun, Lamongan, Jawa Timur tempat terpidana terorisme Amrozi pernah bernaung, tidak terindikasi adanya kaitan dengan jaringan lembaga pendidikan atau organisasi internasional.
"Kecuali dengan Pondok Pesantren Al Islam lainnya yang memiliki visi dakwah dan pendidikan yang sama, " kata Atho Muzhar, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Agama pada acara jumpa pers di kantornya, Jakarta, Kamis (4/11).
Menurut Atho, kesimpulan itu berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan institusinya dari Januari-Desember 2003. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif fenomenologi politik. Penelitian dilakukan dengan pengamatan, wawancara, dan studi mendalam terhadap dokumen penting. "Data-data yang diperoleh kemudian diklarifikasi dan dianalisis secara holisitik sesuai jenis data dan sifat masalahnya," ujarn Atho.
Pesantren Ngruki kian terkenal setelah peneliti Internasional Crisis Group Sidney Jones mengungkapkan adanya jaringan Jemaah Islamiyah yang dipimpin oleh Baasyir dan Abdullah Sungkar. Kedua tokoh Islam ini juga pendiri Pesantren Ngruki.
Adapun Pesantren Tenggulun mulai mengemukaka tatkalah Amrozi, terpidana kasus bom Bali, tertangkap. Pesantren ini dikelola oleh kakak Amrozi yang juga alumni dari Pesantren Ngruki.
Atho menjelaskan, sistem pendidikan yang dikembangkan Pesantren Ngruki sama denga Al Islam Tenggulun. Pendidikannya menganut model Salafiyah atau tradisional. Bedanya, Al Mukmin menganut falsafah pendidikan yang mengembangkan potensi dan fitrah manusia yang pada dasarnya mempunyai keimanan dan kebaikan, sementara Al Islam beorientasi pada pembentukan ulama yang alim dan mujahid Dakwah. "Pendidikan diarahkan kepada upaya sungguh-subngguh untuk menerima dan mengamalkan syariat Islam secara utuh dalam pemahaman Salafi," ujarnya.
Penelitian itu juga merekomendasikan agar keberhasilan kedua pesantren dalam menanamkan semangat kejuangan dan kesiapan menghadapi kesulitan kepada para santrinya perlu dipertahankan. "Pemerintah perlu meningkatkan perannya melalui pelayanan dan penganyoman serta penciptaan iklim kondusif bagi terbangunya interaksi warga pesantren dengan pihak lain agar tidak eksklusif dan mampu memahami perbedaan sebagai bagian dari hukum alam," ujarnya.
Badriah - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|