|
Nasional
Presiden Bush Akan Bersikap Makin Keras Terhadap Indonesia
Kamis, 04 November 2004 | 19:38 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Direktur Center for Electoral Reform (CETRO) Smita Notosusanto mengatakan Indonesia harus bersikap tegas terhadap intervensi yang akan dilakukan Amerika Serikat pasca kemenangan George W. Bush yang berhasil menyisihkan saingan beratnya John F. Kerry. Hal itu dikatakan ketika dihubungi Tempo melalui telepon, Kamis (4/11) di Jakarta.
Menurut Smitha, AS akan kembali menggulirkan wacana perang melawan terorisme. Dalam hubungan bilateralnya dia bersikap unilateral terhadap negara tetangganya maupun dalam hubungan internasional. "Bush akan memaksakan kepada setiap negara yang mempunyai hubungan bilateral dengannya untuk mengikuti keinginannya," ungkap Smitha.
Berkaitan dengan Indonesia, Smitha menilai Bush akan semakin keras dan memaksa Indonesia memerangi terorisme. "Setelah kemarin berhasil memaksakan titipannya pada pemerintahan Megawati berupa undang-undang teroris dan undang-undang money loundry, entah apa lagi yang diinginkan oleh Amerika," tuturnya.
Dampak dari perang terhadap terorisme tersebut akan menyudutkan kelompok-kelompok Islam radikal di Indonesia. Apabila ini terjadi maka akan muncul reaksi dari kelompok-kelompok Islam radikal yang belum dapat kita perkirakan. "Padahal Indonesia sebagai negara yang pluralis dalam budaya maupun agama harus menjaga keseimbangan ini," jelasnya.
Smitha mengatakan, jalan satu-satunya bagi pemerintah Indonesia untuk perpecahan adalah ketegasan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. "Terus terang saya agak meragukan ketegasan Susilo Bambang Yudhoyono, karena di dalam negeri pun sikapnya tidak terlalu tegas apalagi menghadapi kekuatan yang luar biasa dari Amerika," ungkapnya.
Menurut Smitha, Indonesia merupakan satu dari negara-negara yang dianggap Amerika sebagai sarang teroris. "Indonesia mungkin satu-satunya negara Islam di luar Timur Tengah yang langsung mendapatkan penarikan visa ketika terjadi peristiwa 11 September kemarin. Malaysia saja tidak mendapatkan perlakuan seperti kita," urainya.
Menurut Smitha apa yang dikatakan R. William Liddle kalau Amerika mengistimewakan Indonesia adalah lip service belaka. "Mungkin bentuk mengistimewakannya dengan lebih bersikap keras terhadap Indonesia," ungkapnya.
Flamboyan - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|