Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Jakarta

Operasi Militer Hambat Tim Independen
Rabu, 03 November 2004 | 19:47 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Kasus Mulia di Puncak Jaya 14 September lalu, meninggalkan bekas ketakutan yang mendalam. Enam orang warga sipil tewas dalam kasus tersebut. Pemerintah dan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) didesak oleh Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (KontraS) untuk secepatnya melakukan penyelidikan independen terhadap kasus itu.

Usman Hamid, Koordinator Badan Pekerja KontraS menyayangkan sikap pemerintah dan Komnas HAM yang tidak berinisiatif, sebagai lembaga independen yang punya wewenang kuat. "Mereka membiarkan ada monopoli keamanan untuk merespon kasus Mulia itu,"katanya. Akibatnya, menimbulkan kontroversi dan pertanyaan di kalangan masyarakat mengenai pelaku kejahatan; Organisasi Papua Merdeka (OPM) atau tentara?

Pengejaran OPM oleh Tentara setelah peristiwa yang terjadi di Desa Goradi, Tinggi Nambut, Distrik Illu, Kabupaten Puncak Jaya itu, menurut Usman, hanya akan menambah ketakutan masyarakat. Apalagi beredar tulisan Pdt. Socrates Sofyan Yoman, Ketua Umum Gereja Baptis yang berpusat yang menuding "Kasus Puncak Jaya Murni Rekayasa Militer".

Tulisan setebal empat halaman tersebut menggambarkan kronologis kejadian serta alasan TNI melakukan operasi militer. Menurut Sofyan, tujuan militer Indonesia merekayasa kasus Mulia, untuk : menjastifikasi kehadiran pos-pos militer disepanjang jalan trans dari Kabupaten Wamena ke Kabupaten Puncak Jaya. Dibangunnya Batalyon baru di Pegunungan Tengah. Menteror warga Papua dan meraup uang otonomi khusus sebesar Rp 2.52 - 5 milyar. Serta menciptakan ketidakpercayaan masyarakat kepada Bupati yang dipegang pejabat sipil.

Usman menyatakan sulit untuk mempercayai pernyataan itu. "Semua yang dikatakan tentara atau OPM sulit dipercaya, makanya harus dibuktikan, caranya dengan penyelidikan independen," katanya.

Selama ada tim independen, yang bisa dilakukan oleh Komnas HAM, Usman mengusulkan, TNI ditarik untuk sementara. "Jangan ada operasi militer. TNI harus menciptakan kondisi yang kondusif untuk penyelidikan. Supaya masyarakat tidak lari ke gunung.Bagaimana kalau ada saksi kunci yang hilang atau mati?"katanya.

Eworaswa

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Theo L. Sambuaga Optimis Ryamizard Ryacudu Datang
Ryamizard Baru Terima Surat DPR Hari Ini
Sidang PK Abilio Soares Besok Pagi di MA
ELSAM: Masih Banyak Kasus Pelanggaran HAM Belum Tuntas
Pangkostrad Letnan Jendral TNI Hadi Waluyo: Saya Tidak Hambat Regenerasi
Panglima TNI Endriartono : Ryamizard Tak Bakal Datang ke DPR
DPR Panggil Ryamizard 4 November
Setelah Terima DPD, Presiden Akan Temui DPR
Ryamizard Membantah Pencalonannya sebagai Panglima Dihambat Kelompok Tertentu
Sejumlah LSM Persoalkan Kenaikan Anggaran Pertahanan
> selengkapnya...


Referensi

Sejarah TNI AU
Komnas HAM dalam Tragedi Semanggi dan Trisakti
PEMBUNUHAN MASSAL DI AFDELING IV PT. BUMI FLORA ACEH TIMUR
PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DALAM PERADILAN HAM
Kepres RI No. 28 Thn.2003 Tentang Pernyataan Keadaan Bahaya Dengan Tingkatan Keadaan Darurat Di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
UU RI No. 26 Tahun 2000 Tentang Pengadilan HAM
PP RI No.3 Thn 2002 Tentang Kompensasi ,Restitusi, Dan Rehabilitasi Terhadap Korban Pelanggaran HAM yang Berat
> selengkapnya...

Website

Wiranto


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< November,2004>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data