Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Jaksa Agung Jangan Hangat-Hangat Tahi Ayam
Rabu, 27 Oktober 2004 | 07:10 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Anggota Komisi Hukum Nasional Suhadibroto mengatakan dalam 100 hari pemerintahan, Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh perlu melakukan tindakan yang konkrit dan sistematik. ?Dan tidak hangat-hangat tahi ayam dalam pemberantasan korupsi,? kata Suhadibroto, pada diskusi di Fakultas Hukum UI, Selasa (26/10).

Tindakan konkrit dan sistematis artinya disesuaikan dengan kemampuan yang ada. Misalnya, untuk mobilisasi jaksa, harus melihat kecukupan jumlah dan kualitas jaksa, serta manjemen perkaranya. Jika semuanya cukup juga harus dilihat dukungan dana yang ada serta dukungan instansi lain.

Suhadibroto menyarankan langkah-langkah yang harus diambil Abdul Rahman dalam seharus hari pemerintahan SBY, antara lain konsolidasi, pemberantasan korupsi, membuka akses publik dan menyatukan tekad. ?Serta membentuk Majelis Kehormatan Jaksa,? kata Suhadibroto yang pernah menjadi Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara.

Untuk konsolidasi, Suhadibroto menyarankan Jaksa Agung segera menegaskan posisinya. Sebab dalam UU Nomor 16 tahun 2004, terdapat ketidak tegasan posisi Jaksa Agung. Hal ini telah membuka peluang intervensi Presiden terhadap Kejaksaan dalam melaksanakan wewenangnya. Meski sebagai lembaga pemerintahan, tetapi dalam menjalankan tugas Kejaksaan harus independen. terlepas dari pengaruh kekuasaan. ?Pemahaman ikwal ini harus dicapai oleh Presiden dan Jaksa Agung,? katanya.

Setelah posisi jelas, selanjutnya Jaksa Agung harus membuat visi dan misi Kejaksaan Visi dan misi ini, kata Suhadibroto, penting bagi lembaga pemerintahan dan bagi tiap jaksa. Keduanya akan dijadikan arah dan panduan bagi setiap jaksa. Selanjutnya dalam proses konsolidasi, Suhadibroto menyarankan Jaksa Agung untuk segera mengenali kultur Kejakaan. Sebab sebagai lembaga yang besar Kejaksaan memiliki kultur yang telah terbentuk. sehingga sebagai pimpinan baru ia harus mengenali kultur agar tidak terjadi resistensi yang menghambat pelasanaan visi dan misi.

Ramidi?Tempo

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Baju Tahanan Untuk Para Koruptor
Kasus Korupsi di KalSel Dibawa Ke KPK
KPK: Belum Ada Menteri yang Serahkan Laporan Kekayaan
Koruptor DPRD Depok, Jadi Kandidat Ketua
25 Anggota Dewan Kendari Disidang
SBY Ingatkan Pejabat Kejasaan Agung
Presiden Ke Mabes Polri
Presiden: Harapan Masyarakat Atas Penegakkan Hukum, Tinggi
SBY Kunjungi Kejaksaan Agung
LSM Protes Pemberian THR untuk Anggota DPRD
> selengkapnya...


Referensi

Kasus-kasus Korupsi di Indonesia
Program-program Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh Memberantas KKN
ICW : Buka Kembali Kasus Korupsi yang Di SP3
Inpres No. 224 soal Abdullah Puteh
Keppres RI No. 16 Tahun 2004 Tentang Pembentukan Tim Pemberesan Badan Penyehatan Perbankan Nasional
Keppres RI No. 1 Tahun 2004 Tentang Komite Koordinasi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
> selengkapnya...

Website

Komisi Ombudsman Nasional
Pendapat tentang Pemberantasan Korupsi
Situs Resmi Komisi Pemberantasan Korupsi
Lembaga Informasi Negara


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< October,2004>>
MSnSl RK JS
     01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data