|
Nasional
Polisi Kesulitan Tangkap Pelaku Kerusuhan Mamasa
Rabu, 20 Oktober 2004 | 17:01 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Polisi mengaku kesulitan menangkap pelaku kerusuhan di Mamasa, Sulawesi Barat. Pasalnya, pelaku melarikan diri ke hutan setelah melakukan penyerangan.
Menurut juru bicara Mabes Polri Irjen Pol Paiman, ada 12 orang yang diinventarisir kepolisian Parepare sebagai pelaku penyerangan.
"Kendala kepolisian medannya atau geografisnya sulit dan memerlukan kendaraan khusus. Komunikasi radio juga susah," kata Paiman mengutip keterangan dari Kapolwil Parepare, dalam jumpa pers di Mabes Polri, Rabu (20/10).
Menurut Paiman, Polda sudah mengirimkan bantuan 15 motor trail ditambah satu helikopter untuk mengejar pelaku.
Berdasarkan keterangan sejumlah saksi, Andi Jalilu disebut-sebut sebagai salah satu provokator untuk melakukan penyerangan, antara lain ke Desa Arale Utara dan Desa Kalung.
Tercatat tanggal 16 Oktober lalu sekitar pukul 02.30 WITA, dilakukan penyerangan massa 1.000 orang yang diprovokasi oleh 12 penyerang, antara lain AJ inisial yang disebutkan Paiman.
Kemudian, pada pukul 07.00 WITA penyerangan terhadap 600 orang di Desa Arale Utara dan Desa Kalung mengakibatkan Muis (42 tahun) tewas, dan bayi berumur 2 bulan meninggal jatuh dari gendongan ibunya, serta pembakaran 25 rumah.
Kerusuhan tersebut timbul akibat pemekaran Kecamatan Mamasa menjadi kabupaten. Tiga desa, yakni Desa Arale, Mambi dan Tambulahan masuk Kabupaten Mamasa, tetapi ada sejumlah pihak yang pro dan kontra atas pemekaran Kecamatan Mamasa.
Polisi menduga provokator kerusuhan itu karena masalah perbatasan. Ada sejumlah pihak yang mendukung pemakaran Mamasa, tetapi kontra dengan Kabupaten Polmas.
Menurut Paiman, sebanyak 362 personel polisi dan 30 anggota TNI diterjunkan untuk mencegah terjadinya penyerangan di desa-desa yang dinilai rawan. Ia menyebutkan di Desa Arale ada dua SST ditambah satu regu TNI.
Di perbatasan Mambi Arale ditempatkan 20 Brimob dan satu regu TNI, di Desa Tampalina 15 orang terdiri dari Brimob dan Samapta, di Desa Arale Liana 1 SST Brimob dan satu regu TNI, di posko Polsek Mambi dijaga 60 Brimob dan 15 Samapta ditambah humas dan polisi kesehatan.
Di Desa Ujung Manurun ada 20 Brimob, di Desa Mamba Buda ada 15 Brimob, di Desa Kepe ada 15 Brimob, di Desa Sendana ada 5 Brimob, dan di Dusun Tapipuki 15 Brimob. "Mereka ini untuk mengamankan desa-desa yang rawa," kata Paiman yang kemarin melihat situasi di Mamasa bersama Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar.
Paiman menjelaskan, ada tim tertentu yang melakukan pengejaran terhadap 12 orang yang diinventarisir sebagai provokator untuk melakukan penyerangan dan pembakaran rumah-rumah.
Sementara itu, adanya penembak jitu, kata Paiman, harus melalui prosedur dan tidak langsung menembak. Paiman membantah pernyataan bupati yang menyatakan kapolri tidak bertindak tegas.
"Kapolri sebagai pimpinan tertinggi mengimbau akan melakukan penegakan hukum, itu bahasa Kapolri, itu sudah tegas. Tapi pandangan bupati yang berbeda," kata Paiman.
Martha Warta - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|