|
Nasional
SBY Meniru Soeharto dalam Menyusun Kabinet
Selasa, 19 Oktober 2004 | 17:30 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Metode yang digunakan presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam menyusun kabinetnya sama dengan cara yang digunakan Presiden Soeharto pada masa Orde Baru. Hal itu dikatakan pakar hukum Adnan Buyung Nasution kepada Tempo di Jakarta, Selasa (19/10). "Bedanya kalau zaman Soeharto melalui telepon, sedangkan SBY dipanggil satu-satu,? katanya.
Menurut Buyung, ada cara yang lebih bagus dan manis ketimbang memanggil satu persatu. Cara tersebut adalah SBY harus mempunyai tim khusus untuk menyeleksi orang-orang yang sudah mempunyai program dan komitmen melakukan perubahan. ?Itu lebih manis ketimbang harus dipanggil satu persatu, seolah SBY adalah raja," katanya. Menurutnya, cara-cara ini adalah metode yang digunakan Soekarno, Wilopo, Natsir, dan Syahrir dalam menyusun kabinetnya.
Lebih lanjut ia menegaskan, seharusnya SBY dan Jusuf Kalla sebelum menyusun kabinet, lebih dulu mempunyai program untuk perubahan Indonesia. Para calon menteri juga harus mempunyai komitmen dan program yang sejalan dengan program presiden dan wakil presiden terpilih. "Mereka harus mempunyai flatform yang sama untuk melakukan perubahan," katanya.
Sementara mengenai sistem hukum, Buyung mengharapkan kabinet SBY mempunyai tim hukum yang berani melakukan perubahan terhadap sistem hukum yang amburadul. Kebobrokan sistem hukum Indonesia ini, menurutnya, dijadikan alasan oleh investor asing maupun pengusaha untuk tidak menanamkan modalnya di Indonesia. ?Karena tidak ada kepastian hukum yang jelas," katanya.
Namun Buyung optimistis SBY bisa membentuk tim hukum yang tangguh. Karena SBY adalah seorang pemikir yang serius. "Hanya saja kita belum melihat rencana komplet di bidang hukum yang disampaikan SBY," katanya.
Erwin Daryanto ? Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|