Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

ICW Serukan Jusuf Kalla Keluar dari Bisnisnya
Selasa, 19 Oktober 2004 | 14:51 WIB

TEMPO Interaktif, Denpasar:Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) Teten Masduki meminta agar Wakil Presiden Terpilih Jusuf Kalla, berjanji ke masyarakat untuk keluar dari bisnis, baik sebagai komisaris, maupun direktur dari kelompok usaha yang dimilikinya.

"Karena yang paling rawan adalah Jusuf Kalla. Dia merupakan pengusaha. Banyak sekali usahanya yang berpotensi untuk bisa memanfaatkan proyek-proyek pemerintah," ungkapnya saat menjadi pembicara dalam sebuah diskusi panel di Denpasar, Selasa (19/10).

Selain itu, dia juga menyarankan agar pasangan ini berjanji kepada publik untuk tidak mengambil proyek dan memanfaatkan kepentingan bisnis dari proyek-proyek pemerintah, serta melarang anggota keluarganya untuk mengambil bisnis dari pemerintah. "Saya pikir SBY juga harus melakukan hal yang sama, kalau memang mereka serius dalam pemberantasan korupsi. Tetapi inikan belum
dilakukan hingga saat ini," tambahnya.

Teten memberikan contoh bahwa pemerintahan Singapura, saat dibawah pimpinan Lee Kwan Yeu, bisa sukses memberantas korupsi, karena dengan tegas melarang
keluarganya untuk mengambil proyek-proyek pemerintah untuk berbisnis. "Meski kemudian, dia sendiri sekarang justru melakukan KKN, dengan menjadikan anaknya sebagai perdana menteri. Tetapi keseriusan mereka bisa kita ambil
contoh," katanya.

Dalam pemerintahan Yudhoyono-Kalla, dia melihat persoalan
pemberantasan korupsi dianggap tidak terlalu meyakinkan. Salah satu titik persoalannya adalah anggota kabinet pemerintahan ini, berpotensi untuk tidak
kompak. "Saya baru saja disms kalau yang bakal jadi Menteri Keuangan adalah Rizal Ramli, yang sangat anti IMF. Sementara di tim ekonomi sendiri, ada
jajaran yang sangat pro IMF, yakni Sri Mulyani sebagai Ketua Bappenas. Ini akan menimbulkan ketidakkompakan. Kondisi ini akan membuyarkan konsentrasi untuk memberantas korupsi," katanya.

Menurutnya, beberapa pos menteri yang rawan akan terjadinya korupsi dalam jumlah besar antara lain Menteri Pemukiman dan Sarana Wilayah serta Menteri
Keuangan. Pada kementrian Kimpraswil misalnya, Teten mensinyalir kalau di pos ini banyak sekali proyek-proyek yang berpotensi nuntuk diselewengkan.

"Selain itu, kementrian keuangan. Departemen ini mengelola 80 persen anggaran yang berasal dari pajak. Ini juga potensi besar dalam masalah korupsi. Kita lihat apa dua menteri ini cukup kredibel dalam masalah
pemberantasan korupsi," katanya.

Dia menyarankan, jika dalam 100 hari pertama, anggota kabinet tidak bisa mewujudkan janji untuk memberantas korupsi, sebaiknya Yudhoyono-Kalla
me-reshuffle. "Kenapa tidak? Ganti saja mereka," tegasnya.

Raden Rachmadi - Tempo


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

SBY Dialog dengan Rakyat 18 Kota
Kalla Harapkan Mega-Hamzah Hadiri Pelantikan SBY
MPM Serukan SBY-JK Tetap Jaga Sinergi
Seleksi Kabinet SBY Selesai Hari Ini
Presiden Larang Menteri Keluarkan Kebijakan Strategis Hingga 20 Oktober
Megawati Tidak akan Hadiri Pelantikan SBY
Yudhoyono Lanjutkan Seleksi Calon Menterinya
Dibalik Penolakan Megawati Menghadiri Pelantikan SBY
PBB Tetap akan Dukung Yudhoyono
Kehadiran Hamzah Tergantung Megawati
> selengkapnya...


Referensi

Profil Susilo B. Yudhoyono
Profil Jusuf Kalla
Jadwal Kampanye Pemilu Presiden
Laporan Penelusuran Penyumbang “Bermasalah ”
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [3]


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< October,2004>>
MSnSl RK JS
     01 02
03 04 05 06 07 08 09
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30
31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data