|
Nasional
Jawa Dan Bali Krisis Air Bersih
Selasa, 19 Oktober 2004 | 10:38 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pulau Jawa dan Bali mengalami tingkat krisis ketersediaan air bersih. Hal ini dilihat dari perbandingan ketersediaan dan kebutuhan air yang tersebar di enam pulau yang tersebar di Indonesia.
Menteri Pemukiman dan Prasaran Wilayah, Soenarno, mengatakan ketersediaan air bersih untuk kebutuhan penduduk di perkotaan semakin sulit. "Khususnya bagi penduduk miskin yang tinggal di perkotaan," ujarnya, di Jakarta, Selasa (19/10). Air bersih di perkotaan dilihat dari kuantitas maupun kualitas menunjukan tingkat rendah.
Soenarno mengungkapkan akses terhadap sumber air aman bagi masyarakat perkotaan sudah tidak ada lagi. Air di perkotaan sudah mengalami pencemaran. Hal ini mengakibatkan kualitas hidup masyarakat semakin menurun. Di sisi lain, bagi penduduk yang dinilai mapan, akses air bersih harus dibayar dengan biaya tinggi.
Soenarno mengatakan, kekurangan air di perkotaan karena pencemaran sumber air, pengundulan hutan dan banjir yang mengakibatkan terganggunya fungsi peresapan air. Di sisi lain, harga air apapun bentuk produk yang dijual umumnya belum mencerminkan harga yang sebenarnya. Menurutnya, penentuan harga ini, umumnya belum sepenuhnya memasukan biaya kerusakan lingkungan. Bahkan, dapat dilihat produk air dimanfaatkan secara bebas tanpa biaya.
Soenarno mencontohkan, pemanfaatan air tanah dengan pompa yang dilakukan oleh masyarakat. Akibatnya, masyarakat dan pelaku ekonomi tidak mempunyai dorongan untuk efesien dan efektif dalam penggunaan air.
Soenarno menjelaskan, tingkat krisis ketersediaan air kedua berada di Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Selatan. Berdasarkan data distribusi ketersediaan sumber daya air, Irian Jaya menempati posisi teratas dengan jumlah ketersediaan air sebesar 350 miliar meter kubik pertahun. Disusul Kalimantan sebesar 140 miliar meter kubik pertahun dan Sulawesi 34 miliar meter kubik pertahun.
Sedangkan untuk Sumatera tercatat mempunyai ketersediaan air sebesar 111 miliar meter kubik pertahun dan Jawa hanya 30 miliar meter kubik pertahun.
Bila ditinjau dari kebutuhan air, Irian Jaya menempati urutan terbawah yang hanya sebesar 0,036 persen. Kebutuhan air di Irian jauh lebih rendah daripada Jawa, karena jumlah penduduk yang lebih sedikit. Kebutuhan air di Kalimantan, tercatat empat persen, Sumatera 17 persen dan Sulawesi 45 persen. Pulau Jawa dengan penduduk paling padat mempunyai kebutuhan air sebanyak 206 persen. Data ini memperlihatkan ketidakseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan air dengan distribusi air yang tidak merata.
Agriceli - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|