|
Nasional
Yudhoyono Mulai Seleksi Calon Menteri
Sabtu, 16 Oktober 2004 | 12:40 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono kemarin mulai memanggil dan menyeleksi sejumlah orang yang akan duduk di kabinetnya. Proses seleksi dilakukan langsung oleh Yudhoyono di ruang perpustakaan pribadi di rumahnya di Cikeas, Bogor. Seleksi dilakukan dua kali. Pertama seusai salat Jumat dan kedua malam harinya seusai salat tarawih.
Meski belum secara tegas menyebut pos apa yang ditawarkan oleh Yudhoyono, beberapa tokoh yang datang kemarin diarahkan menjawab pertanyaan-pertanyaan khas terkait dengan kementerian tertentu.
Mereka yang dipanggil siang adalah Deputi Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata Dr. Meutia Farida Hatta Swasono, Rektor Institut Teknologi Bandung Dr. Kusmayanto Kadiman, dan mantan Deputi Menteri BUMN Sofyan A. Djalil.
Meutia, yang datang paling awal, sekitar pukul 13.30 WIB, menjelaskan Yudhoyono menanyakan banyak hal. Antara lain masalah peran perempuan dalam pembangunan, soal masyarakat, dan budaya. "Beliau hanya ingin mengetahui apa yang saya ketahui tentang nation character building," kata Meutia setelah bertemu dengan Yudhoyono.
Meutia belum dapat memastikan di mana ia akan ditempatkan dalam kabinet Yudhoyono, tapi secara tegas ia siap. "Saya ini pegawai negeri sipil. Karena itu, saya siap ditempatkan di mana saja," katanya. Namun, ia perkirakan, sebelum memanggil dirinya, Yudhoyono sudah mengetahui dan memperhitungkan jejak rekam kariernya dalam kebudayaan.
Tokoh kedua yang dipanggil, Kusmayanto, mengaku Yudhoyono sengaja memancing dirinya menjelaskan permasalahan pendidikan. Misalnya bagaimana meningkatkan kualitas pendidikan nasional atau pengembangan riset dan teknologi. "Jadi, kalau saya tidak salah, pos pendidikan nasional dan riset-teknologi menjadi peluang saya," kata doktor teknologi informasi ini.
Soal kapan ia menerima panggilan dari Yudhoyono, Kusmayanto menjelaskan, ia mendapat telepon dari private number, nomor rahasia, kemarin sekitar pukul 07.30. Penelepon langsung menanyakan apakah dirinya punya nomor faksimile atau kotak pos. Karena ia tidak memiliki keduanya, penelepon langsung mengatakan ia dipanggil Yudhoyono untuk diseleksi. "Saya kaget karena saat itu sedang pakai sepatu," ujarnya.
Sedangkan Sofyan mengaku mungkin akan diberi kepercayaan menduduki pos menteri komunikasi dan informasi. Kepada Tempo sepulang dari Cikeas, ia mengatakan, dalam pertemuan, Yudhoyono memintanya menjelaskan berbagai hal seputar masalah komunikasi dan teknologi informasi.
Ketika ditanyakan apakah itu berarti dirinya akan menduduki pos tersebut, ia berkata, "Mungkin arahnya ke sana. Bisa saja di-switch."
Ia pun menjelaskan, dirinya diminta membuat rencana kerja 100 hari pemerintahan. "Rencana ini harus diserahkan 18-19 Oktober mendatang," katanya sambil menyebut ia ditelepon pagi harinya oleh Sudi Silalahi, mantan Sekretaris Menko Politik dan Keamanan.
Sementara itu, dalam seleksi malam harinya, Yudhoyono melakukan wawancara terhadap setidaknya empat tokoh lain. Ketiganya masing-masing mantan Ketua KNPI Adhyaksa Dault, pengamat ekonomi Christianto Wibisono, mantan Panglima TNI Widodo A.S., dan seorang lagi yang belum diketahui.
Adhyaksa seusai pertemuan menyatakan, dirinya berdiskusi dengan Yudhoyono mengenai masalah kepemudaan, sosial, dan olahraga. Kendati demikian, ia menyatakan dirinya dipanggil bukan sebagai calon menteri. "Saya cuma diminta memberi masukan," ujarnya. Namun, ketika ditanya siapkah jika dipilih, ia menyatakan, "Saya siap bekerja sama dalam tataran apa pun."
Menurut seorang anggota tim Yudhoyono, di luar nama-nama yang sudah dipanggil ke Cikeas kemarin, sejumlah nama lain juga sudah diminta datang. Mereka adalah Rektor Institut Pertanian Bogor Acmad Ansori Matjjik, mantan Menteri Keuangan Bambang Sudibyo, Ekonom Indef Didik J. Rachbini, serta Ali Marwan Hanan dari Partai Persatuan Pembangunan. Ketika dihubungi tadi malam, Didik dan Bambang Sudibyo mengaku belum menerima panggilan.
Sementara itu, Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Yusril Ihza Mahendra mengatakan dirinya tidak bersedia masuk kabinet jika harus melalui fit and proper test. "Kami sudah pernah bekerja bersama dalam kabinet, sudah tahu masing-masing," katanya.
cahyo junaedi/metta/heri/grace/mawar/maria ulfah
INDEKS BERITA LAINNYA :
|