|
Nusa Tenggara Barat
Status Siaga, Pendakian Rinjani Ditutup
Senin, 04 Oktober 2004 | 15:59 WIB
TEMPO Interaktif, Mataram:Aktivitas gunung berapi Baru Jari di pegunungan Rinjani semakin meningkat. Kalau semula sewaktu pertama kali meletus tremor amplitudonya 11, kini telah menjadi 15.
Rinjani telah berstatus waspada sejak 24 September pukul 11.00 Wita, namun terhitung Jum,at (1/10) lalu pukul 06.00 Wita Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menetapkan Rinjani dalam status siaga.
Ketetapan ini diambil setelah pada hari Jum’at (1/10) lalu pukul 05.50 Wita teramati adanya asap letusan berwarna putih sedang-tebal dengan ketinggian antara 400-600 meter di atas puncak dengan kolom asap letusan condong ke utara. Sampai dengan pukul 07.30 Wita masih terjadi letusan sebanyak lima kali.
Para pendaki yang turun dari gunung tersebut, memberitahukan bahwa sewaktu meletus, Danau Segara Anak yang berada pada ketinggian sekitar 2.400an meter tertutup debu sehingga jarak pandang hanya 7-10 meter. Gunung Baru Jari di pegunungan Rinjani ini telah tiga kali meletus.
Menurut Kepala Sub Dinas Sumber Daya Dinas Pertambangan Nusa Tenggara Barat Heryadi Rachmat, pemantauan dan evaluasi dilakukan oleh tim Direktorat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi yang dikirim dari Bandung. "Untuk menghindari korban jiwa, pendakian gunung Rinjani untuk sementara waktu ditutup," ucapnya, Senin (4/10) pagi.
Ini diberlakukan sampai dengan keadaan normal kembali. Penduduk yang bermukim di sekitar gunung Rinjani tidak perlu panik karena tidak terancam oleh letusan tersebut. Hanya, Heryadi Rachmat mengatakan belum diketahui penyebab letusan gunung tersebut preatik (batuan lama terpercik air) atau magmatis.
Secara terpisah, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Nusa Tenggara Barat Jacoub Abidin mengatakan belum menerima informasi resmi. Ia hanya menjanjikan akan meminta kewaspdaan petugas Rinjani Trek Center di Senaru Lombok Barat. "Ya mendaki Rinjani itu perlu tiga hari. Jadi ya harus bisa mengambil tindak pengamanan," ujarnya, Minggu (3/10).
Letusan pertama yang tercatat 1944 mengeluarkan batuan 73 juta kubik, kedua tahun 1966 memuntahkan 6,6 juta kubik dan tahun 1994 yang mengeluarkan 25 juta kubik menimbulkan korban jiwa 30 orang penduduk di Lombok Timur meninggal akibat banjir lahar.
Supriyanto Khafid - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|