|
Nasional
Si Kecil Manny Mulai Tersenyum
Senin, 04 Oktober 2004 | 10:47 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Rambut ikalnya menjuntai di bawah penutup kepala berwarna putih. Senyum mengembang di bibir mungilnya. Di foto lain, ia, Elisabeth Manuela Musu, 5 tahun, sedang memandang David Norman, pria yang dipastikan sebagai ayah biologisnya, sambil memangku boneka.
Itulah "penampilan" pertama Manuela Musu, si kecil yang selamat dalam aksi pengeboman di depan Kedutaan Australia, Kuningan, Jakarta, 9 September lalu. Tiga pekan lalu, foto Manny, nama panggilannya, terpampang besar di berbagai media massa sebagai simbol tragedi: gadis kecil terkulai dengan darah mengucur dari luka-lukanya.
Bom yang meledak pada pukul 10.30 WIB itu menewaskan setidaknya sembilan orang. Semuanya warga negara Indonesia, termasuk ibunda Manny, Ny. Maria Eva Kumalawati, 27 tahun.
Kini, setelah tiga pekan dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth, Singapura, Manny mulai pulih. Pada Sabtu siang, ayahnya, David Norman, tampak mendorong kursi rodanya keluar dari ruang gawat darurat rumah sakit itu.
Ketika wartawan The Sunday Times memotretnya, Manny tampak malu-malu. Ia menyembunyikan mukanya di bawah topi kartun berbordir atau di belakang tempat minumnya. Sang wartawan, Wang Hui Fen, lalu merayu, "Tersenyumlah, dan saya akan memotret wajah cantikmu, oke?" Manny setuju, lalu tersenyum.
Menurut Ng. Puay Yong, 39 tahun, ahli bedah yang menanganinya, pemulihan Manny dengan cepat adalah sebuah keajaiban. "Ketika dia (Manny) datang ke rumah sakit, dia hampir mati. Kedua bola matanya tak bereaksi, yang artinya, secara statistik, ia hanya memiliki peluang hidup kurang dari lima persen," kata Yong.
Dokter melakukan dua kali operasi terhadap Manny, pertama, pada 10 September untuk mengangkat darah dan pecahan bom dari otak, perut, serta tangannya. Operasi kedua pada 20 September dilakukan untuk membersihkan luka-luka dan jahitan bekas operasi sebelumnya. Para terapis juga membantunya untuk memulihkan kemampuan berbicara dan bergerak.
Ketika ditanyakan bagaimana hubungannya dengan Manny, Dr. Yong berkata sambil tertawa, "Terus terang, dia membenci kami. Di mana pun kami melakukan perawatan, ia selalu menangis atau berpura-pura tidur. Tetapi, itulah bagian dari pekerjaan kami."
Kisah Manny mirip melodrama. Ia adalah bagian dari cinta segitiga antara Norman dan Manuel Musu, 31 tahun, seorang petugas keamanan berkewarganegaraan Italia. Kedua pria itu sama-sama mengklaim sebagai ayah biologis Manny. Maria Eva Kumalawati menikah dengan Musu, ketika sedang mengandung Manny, di Verona. Namun, berdasarkan uji genetis, dipastikan ayah genetis Manny adalah Norman.
Pada Jumat lalu, kedua pria itu mencapai kata sepakat bahwa Manny akan hidup di Italia bersama Musu. Manny dan ayahnya akan meninggalkan Singapura, hari ini. Ny. Rina Astuti, kakak tertua Maria Eva, menyatakan, Manny kini memanggil Norman dengan "Dada" dan menyebut Musu "Papa".
Mereka semua telah menceritakan kepada Manny bahwa sang ibu telah tiada. "Suatu hari ia bangun dan bertanya tentang mamanya," kata Astuti. "Kami lalu menunjuk langit, dan memintanya melambaikan tangan ke sana."
"Dia menangis."
INDEKS BERITA LAINNYA :
|