|
Nasional
Tawanan Indonesia di Irak Diinterogasi Dalam Bahasa Indonesia
Kamis, 30 September 2004 | 22:23 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Rekaman penyanderaan Rafikan binti Aming dan Rosidah binti Anom -keduanya warga negara Indonesia, yang sempat ditayangkan Kantor Stasiun Televisi berbahasa Arab, Al-Jazeera, cukup mengagetkan pihak Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Doha, Qatar. "Saya sangat heran, para gerilyawan mengajukan dua pertanyaan dengan bahasa Indonesia aksen Arab," kata Kepala Bidang Konsuler KBRI, Ghufron Afero kepada Tempo lewat sambungan telepon, Kamis (30/9).
Menurut Afero, kedua sandera wanita asal Indonesia, itu ditanya nama dan asal mereka. "Keduanya mengaku berasal dari Jakarta," kata Afero. "KBRI dan Al-Jazeera belum tahu, kapan penculikan berlangsung dan di mana posisi kedua tawanan itu. Kami juga belum tahu, di perusahaan mana kedua wanita itu bekerja di Irak," kata Afero. Sampai saat ini, penyandera belum menyampaikan tuntutan apapun.
KBRI, kata Afero, tahu kabar penyanderaan dua warga Indonesia itu setelah menyaksikan siaran rekaman video sekitar pukul 12:30 waktu setempat (pukul 16:30 WIB). "Kualitas rekaman yang cukup panjang, itu sangat jelek. Saya sampai mengulangnya tujuh kali," katanya. Tapi, rekaman yang menggambarkan kedua wanita Indonesia, itu hanya berdurasi sekitar dua menit.
"Kedua wanita yang kepalanya ditutup dengan selendang putih, itu memakai daster: Rosidah memakai warna terang dan Rafikan memakai warna gelap. Mereka duduk di lantai dan tidak diborgol," kata Afero yang menyebut paras kedua wanita itu hampir mirip. "Wajahnya bulat dan rambutnya lurus. Keduanya memiliki tinggi sekitar 160 sentimeter," katanya lagi.
Selain kedua wanita Indonesia yang tampak takut dan gelisah itu, kata Afero, juga terdapat sandera seorang pria Arab dalam posisi duduk dilantai dengan muka ditutup dan tangan terborgol ke belakang. Rekaman juga menggambarkan dua orang bertopeng memegang senapan yang diarahkan ke atas.
Untuk itu, menurut Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Departemen Luar Negeri, Ferry Adamhar, Deplu sudah mengirim Wahid, staf lokal KBRI di Irak untuk mencari informasi tentang kedua wanita itu. "Kita juga berkoordinasi dengan perwakilan kita di Doha, Dubai, Damaskus dan Amman," katanya kepada Tempo juga lewat sambungan telepon.
Faisal - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|