Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Fraksi Reformasi: Pemberantasan Korupsi Belum Baik
Sabtu, 25 September 2004 | 18:15 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Fraksi Reformasi menilai presiden sudah berusaha menjalankan enam amanat reformasi yang diamanatkan oleh rakyat. Namun, dari catatan fraksi gabungan Partai Keadilan dan Partai Amanat Nasional, pemerintah dirasakan belum menjalankan penegakan hukum dan pemberantasan korupsi secara baik. "Hukum sering berpihak pada yang kuat dan tidak mampu melindungi yang lemah," kata A.M. Luthfi, Juru Bicara Fraksi Reformasi, dalam pemandangan umum atas laporan lembaga tinggi negara di gedung DPR/MPR Jakarta, Sabtu (25/9).

Lemahnya penegakan hukum, lanjut Luthfi, menyebabkan investor enggan menanamkan investasi ke Indonesia. "Lemahnya investasi akan membawa pengaruh melemahnya sektor riil yang menjadi lokomotif penyerapan tenaga kerja," jelasnya. Lemahnya penegakan hukum ini juga yang membuat korupsi menjadi parah dan meluas dengan modus terang-terangan. Oleh karena itu tindakan tegas dan keras pada koruptor, bahkan hukuman mati, harus dilaksanakan untuk membuat jera pelaku korupsi.

Selain menyoroti penegakan hukum dan korupsi, Fraksi Reformasi juga mengingatkan agar pemerintah dalam menangani terorisme harus mandiri dan tidak tunduk pada skenario global yang merugikan umat Islam. Fraksi Reformasi menilai, dalam menghadapi terorisme pemerintah terkesan terkooptasi kepentingan asing yang menyudutkan komunitas muslim. "Pemerintah menafikan kemungkinan terjadinya konspirasi global di balik aksi terorisme di negeri mayoritas Islam," ujar dia.

Ia mengisahkan penangkapan demi penangkapan terhadap para aktivis Islam oleh Kepolisian dengan dalih keterlibatan dalam terorisme berpotensi menjadi "bola liar" yang tidak terkontrol, demi memenuhi kepentingan kekuatan asing itu. "Kita harus waspada terhadap ancaman teroris tetapi kewaspadaan itu tidak berarti melegalkan perbuatan yang menghalalkan segala cara yang berpotensi terjadinya pelanggaran demokrasi dan hak asasi," ujar dia.

Sutarto dan Badriah - Tempo

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Fraksi TNI/Polri Berpamitan dari MPR
Partai Bulan Bintang Suarakan Syariat Islam
Mega Tidak Hadir dalam Sidang Paripurna
Anggota Tak Gairah, Amien Usul Sidang Diperingkas
Amien Puji Hasil Kerja Komisi Konstitusi
Fraksi PDIP Apresiasi Positif Pidato Megawati
Pembentukan Kode Etik Anggota MPR Dinilai Sangat Perlu
PDIP dan Golkar Setuju Sidang Tahunan Dipercepat
Ketua FKB: Megawati Lemah dalam Penegakan Hukum
Pemerintahan Megawati Dinilai Berhasil
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< September,2004>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data