|
Nasional
Fahmi Idris Kritik Akbar Tanjung
Rabu, 22 September 2004 | 21:49 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Perseteruan kelompok Fahmi Idris dengan para petinggi Golkar terutama Akbar Tanjung semakin kuat saja. Kali ini di Jakarta, Rabu (22/9), Fahmi mengkritik kepemimpinan Akbar Tanjung di Partai Golkar. "Dalam mengambil keputusan, Partai Golkar kurang kuat menggunakan dasar dan dalil-dalil. Sehingga seringkali terjadi kekeliruan," kata Fahmi.
Fahmi mencontohkan, ketika Akbar ingin menjadi calon wakil presiden dan berkompetisi dengan Hamzah Haz. Saat itu, dirinya sebagai ketua fraksi di dewan sudah menyerukan, agar Akbar melakukan sounding ke seluruh anggota dewan. Karena jumlah pendukung Akbar selalu berada di bawah suara gabungan untuk Hamzah. "Akhirnya, Akbar tetap mengajukan diri sebagai calon wakil presiden. Itu kan bertentangan dengan keinginan konstituen. Tapi Akbar tetap maju," kata Fahmi.
Contoh lain, kata Fahmi, Rapat Pimpinan Partai pertama (1999) memutuskan BJ. Habibie sebagai calon presiden. Oktober 1999, ketika akan memasuki Sidang Umum MPR, masih ada triumvirat: Akbar Tanjung, Ginanjar Kartasasmita dan Marzuki Darusman. Ketika itu, pengurus harian dipanggil untuk rapat bersama Akbar Tanjung. Rapat yang berlangsung sampai pagi, itu berjalan alot, karena Akbar meminta anggota rapat untuk mendukung Megawati. "Saya waktu mengatakan, 'jika ada yang tidak setuju dengan pencalonan Habibie, kita harus kembali rapim, bukan mendukung Megawati'," kata Fahmi mengenang.
Ketika janji-janji tidak terpenuhi, lanjut Fahmi, Akbar kemudian pindah ke Gus Dur. "Mega berbaikan dengan Akbar, baru menjelang pilpres kedua ini," katanya yang kemudian mengatakan, "Akbar jalan dengan konsepnya sendiri, bukan berdasarkan rapim".
Menurut Fahmi, Partai Golkar belum melakukan perubahan berarti. "Golkar tidak berbeda dengan PD P yang mengklaim sebagai partainya wong cilik, tapi tidak memperjuangkan rumusan aspirasi rakyat," kata Fahmi. Untuk itu dirinya pernah mengusulkan agar Akbar tidak menjabat rangkap pimpinan partai dan dewan. Tapi, Akbar justru mengingikan kedua jabatan itu. "Akbar pernah mengatakan 'tidak mungkin dirinya akan dianggap, jika hanya menjadi pemimpin partai'," kata Fahmi lagi.
RR. Ariyani - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|