|
Nasional
Fahmi: Jika Akbar Bertahan, Pemilu 2009 Golkar Kritis
Rabu, 22 September 2004 | 19:05 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Partai Golkar berada dalam titik kritis jika pada Pemilu 2009 Akbar Tandjung tetap menjabat sebagai ketua umum partai beringin. Hal ini dikatakan Fahmi Idris pada wartawan di Hotel Four Season, Rabu (22/9).
Fahmi mengatakan, permasalahan internal Golkar, seperti sosok Akbar, harus diketahui publik, terutama menjelang pemilu ke depan. "Ini kan harus dijelaskan, harus dibuka, karena ini juga berkaitan dengan publik Golkar, terutama untuk pemilu 2009 mendatang," tegasnya.
Pada Pemilu mendatang, katanya, konstituen yang sekarang berbeda pandangan dengan Akbar akan menjadikan posisi Partai Golkar berbahaya. "Maka itu, akan sulit jika posisi Akbar masih menanggapi masalah ini seperti business as usual," katanya.
"Kalau Akbar tetap memimpin Golkar, waduh, Golkar nantinya pasti akan ditinggalkan oleh konstituennya," ujarnya. Konstituen itu akan pergi ke partai-partai lain yang dianggap lebih reformis dan lebih mementingkan rakyat. "Saya jamin itu, jika Akbar tetap memimpin Golkar, suara Golkar pada 2009 akan menurun," katanya.
Fahmi menilai keputusan Akbar mendukung calon presiden Megawati adalah keputusan politik yang luar biasa pentingnya. Menurutnya, hal tersebut menyangkut realisasi kedaulatan hak-hak rakyat. Dan keputusan ini membedakan dengan keputusan-keputusan politik sebelumnya, sebab ini akan berhadapan dengan para pemilih/konstituennya.
Tapi kemudian, kata Fahmi, muncul masalah karena sebelumnya Golkar menyatakan dalam kampanyenya akan mengganti pemerintahan. Akibatnya, rakyat menjadi bingung ketika dua bulan kemudian ada putusan Golkar mendukung Megawati.
Menurutnya, karena masalah kedaulatan rakyat ini di luar kebiasaan, yang terbaik adalah Akbar mengundurkan diri, ataunon aktif sementara menjelang Munas ini. "Karena ia telah melakukan kesalahan dengan mengambil keputusan yang berbeda dengan hasrat dan pilihan para konstituennya," ujarnya. Secara sadar, menurutnya, Akbar harus memahami posisi sulit dirinya pada konstituennya.
RR. Ariyani - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|