|
Nasional
Kegagalan Koalisi Kebangsaan Menunjukkan Ketidak-percayaan Masyarakat Terhadap Elite Politik
Selasa, 21 September 2004 | 18:53 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Koalisi Kebangsaan tidak berhasil menarik massanya untuk mendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden Megawati Soekarnoputri-Hasyim Muzadi. Kegagalan ini menunjukkan, masyarakat cenderung tidak lagi percaya pimpinan partai politik. "Pemilih lebih tertarik dengan janji pasangan calon dari pada menuruti perkataan elit partai. Koalisi hanya diaggap sebagai jalan meraih kekuasaan," kata Wakil Direktur Penelitian LP3ES Sabirin Nadj saat memberikan komentar hasil surveinya di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (21/9).
Hasil survei LP3ES menunjukkan, pendukung partai-partai yang tergabung dalam koalisi kebangsaan tetap lebih banyak mendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden Susilo Bambang Yudhoyono-Yusuf Kalla. Dukungan besar kepada Mega-Hasyim hanya datang dari pendukung Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan Partai Damai Sejahtera. Para pendukung dari Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan dan Parti Bintang Reformasi justru memberikan dukungan bertentangan dengan pimpinan partai.
Bahkan, partai yang elit partainya mengatakan netral, juga memiliki kecenderungan memberikan dukungan kepada Yudhoyono-Kalla. Dari 7.303.324 pemilih pendukung Partai Amanat Nasional, 77 persen diantaranya mendukung Yudhoyono-Kalla. PKB yang memperoleh dukungan 11.989.564 suara pada pemilihan umum legislatif, 66 persen diantaranya mendukung Yudhoyono-Kalla. Dukungan terhadap Yudhoyono-Kalla juga datang dari 76 persen pendukung Partai Golkar, 76 persen pendukung PPP, 69 persen pendukung PBR, 37 persen pendukung PDS dan 22 persen pendukung PDIP. "Dukungan PDS dan PBR terhadap Mega-Hasyim cukup besar, tapi tidak segnifikan," kata Ketua Direktur Penelitian LP3ES, Andy Agung Prihatna.
Dukungan dua organisasi masyarakat Islam: Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah juga besar terhadap Yudhoyono-Kalla, dibandingkan kepada Mega-Hasyim. Yudhoyono-Kalla didukung 60 persen warga Nahdliyin dan 68 persen warga Muhammadiyah. "Hasyim Muzadi ternyata tidak memiliki pengaruh besar untuk menarik massa NU," kata Andy.
Sementara itu, pendukung tiga calon presiden pada pemilihan umum presiden putaran pertama yang gagal maju putaran kedua, sebagian besar juga memberikan dukungan kepada Yudhoyono-Kalla: 71 persen dari 26.124 juta pendukung Wiranto, 79 persen dari 17.266 juta pendukung Amien Rais-Siswono dan 65 persen dari 3,518 juta pendukung Hamzah Haz.
Survei LP3ES dilakukan terhadap 4.831 responden di 1.908 tempat pemungutan suara (masing-masing TPS diambil empat orang untuk diberikan pertanyaan mengenai latar belakangnya). Tingkat kesalahan survei ini diperkirakan mencapai 1,5 persen, dan survei dilakukan setelah acara pencoblosan selesai dilakukan.
Sampai pukul 15.00 WIB, Quick Count yang juga dilakukan lembaga ini menunjukkan, Yudhoyono-Kalla tetap mengungguli Mega-Hasyim dengan persentase perbandingan suara 60,2 : 39,8. Penambahan suara cenderung terjadi pada pasangan Mega-Hasyim, sementara dukungan kepada Yudhoyono-Kalla cenderung turun. "Walau demikian, kecenderungan ini sangat tipis dan tidak akan merubah hasil akhir urutan perolehan pasangan ini. Data terakhir ini dimabil dari sample berdasarkan laporan hasil survey di 1.942 TPS dari 2.000 TPS," kata Andy.
Purwanto - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|