|
Nasional
Gus Dur dan Keluarga Tepati Janji untuk Golput
Senin, 20 September 2004 | 17:18 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Mantan Presiden Abdurrahman Wahid memenuhi janjinya untuk tidak menggunakan hak pilih pada pemilihan presiden putaran kedua kali ini. Pada hari pemungutan suara 20 September ini, Gus Dur bukannya mengunjungi Tempat Pemungutan Suara (TPS), ia malah pergi meninggalkan kediamannya di kawasan Ciganjur, Jakarta Selatan ke kantor PBNU di kawasan Kramat Jakarta Pusat.
Gus Dur sendiri telah terdaftar sebagai pemilih di TPS 54, kelurahan Ciganjur, kecamatan Jagakarsa. Ia terdaftar sebagai pemilih dengan nomor urut 155. Tidak hanya Gus Dur, langkah golput ini juga diikuti istrinya, Shinta Nuriyah dan dua orang putrinya, Inayah Wulandari Rahma dan Zannuba Arifah Chapsoh atau biasa dipanggil Yenny. Mereka terdaftar sebagai pemilih dengan nomor urut 156,157 dan 158 di TPS tersebut.
Gus Dur meninggalkan rumahnya sejak pukul 09.00 WIB. Sebelum pergi dari rumahnya, ia sempat menerima wartawan di ruang tamu rumahnya itu. Ia menegaskan kembali ia tidak akan menggunakan hak pilihnya. Bahkan Gus Dur memprediksi jumlah rakyat yang tidak menggunakan hak pilihnya alias golput akan meningkat ketimbang Pemilu presiden putaran pertama lalu. "Jumlahnya bisa sampai 60 persen," kata Gus Dur.
Tidak lama seusai menemui wartawan, Gus Dur yang saat menemui wartawan mengenakan kaos ini kemudian berganti pakaian, dan dengan didampingi sejumlah ajudannya langsung menaiki mobil Land Cruiser B 1926 AW warna hitam miliknya untuk pergi ke kantor PBNU di kawasan Kramat Raya, Jakarta Pusat.
Para wartawan yang meliput di TPS 54 yang terletak di pondok pesantren Yayasan Wahid Hasyim, yang berada di depan rumah Gus Dur awalnya sempat mengira istri dan putri Gus Dur akan menggunakan hak pilih, namun menjelang habisnya waktu pencoblosan pukul 13.00 WIB, tak satupun anggota keluarga Gus Dur yang mendatangi TPS yang hanya berjarak sekitar 30 meter dari rumahnya itu.
Lima menit menjelang waktu pencoblosan habis, putri Gus Dur, Yenny, tampak keluar dari rumahnya. Namun, Yenny bukan untuk pergi ke TPS. Yenny yang pergi menaiki kendaraan Honda CR-V dengan diantar seorang pengemudi ini menyempatkan diri menemui wartawan yang telah menunggunya. "Kami sekeluarga golput," kata Yenny yang mengenakan pakaian putih-putih ini sambil menunjukkan seluruh jari-jari tangannya yang tidak terkena tinta pemilih. Adapun alasan untuk golput ini adalah untuk memprotes kesewenang-wenangan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam menghalangi hak politik seorang warga bangsa.
Yenny mengatakan, memang ia sendiri ditugaskan oleh ayahnya dan secara pribadi ia mendukung dan bersimpati kepada calon presiden dari Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Ditanya kenapa tidak memberikan suaranya untuk SBY, menurut Yenny, hal ini memang pilihan yang sulit. 揟api pilihan ini yang saya ambil karena KPU tidak boleh dibiarkan sewenang-wenang seperti itu, mendiskriminasi hak seseorang untuk memilih dan dipilih, itu kan hak politik yang paling mendasar kok bisa diambil begitu saja tanpa ada proses,?kata Yenny.
Menurut Yenny, hak politiknya untuk golput ini dihargai oleh Susilo Bambang Yudhoyono. "Lagipula saya keliling berkampanye untuk beliau (SBY). Suara saya kan cuma satu, tapi suara yang saya hasilkan untuk beliau malah bisa ratusan ribu bahkan jutaan, jadi saya rasa perbandingannya lebih bagus itu kan," katanya.
Yenny mengaku akan pergi ke sejumlah tempat untuk memantau hasil penghitungan suara sementara. Setelah itu, dia menuju ke kediaman SBY di Cikeas untuk memberikan selamat kepada SBY. "Karena data awal beliau (SBY) sudah menang dan beliau layak menang," kata Yenny.
Tidak hanya Gus Dur dan keluarganya yang golput, sejumlah orang yang bekerja di rumah mantan presiden itu juga melakukan langkah serupa. Mereka yang tidak menggunakan hak pilih nampak mengenakan kaos putih bergambar Gus Dur dan bertuliskan "Ikut Gus Dur, Ya...Golput!".
Mereka yang golput ini tampak melakukan kegiatan sehari-hari seperti biasa di rumah Gus Dur. Salah satunya adalah Gufron, yang bekerja sebagai salah seorang penjaga di rumah Gus Dur. Pria asal Tegal ini mengaku tidak ikut mencoblos lantaran pilihannya, Wiranto, tidak lolos ke putaran kedua.
"Dari dua pasang ini, nggak ada yang pas buat saya," ujar Gufron mengomentari dua pasang capres-cawapres, Mega-Hasyim dan SBY-Kalla yang maju ke putaran kedua. Gufron sendiri mengaku terdaftar sebagai pemilih di kampung halamannya di Tegal.
Dimas - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|