|
Nasional
Fahmi Idris Cs Resmi Dipecat
Senin, 20 September 2004 | 13:16 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Kalangan politikus Partai Golkar yang menyeberang ke kubu Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya resmi dipecat dari kepengurusan DPP dan keanggotaan Partai Golkar. Kepastian pemecatan diperoleh usai tim delegasi yang ditugasi membujuk Fahmi Idris Cs gagal menghasilkan titik temu hingga Minggu (19/9), pukul 24.00 dini hari. "Apalagi kata-kata yang paling pas selain kami resmi dipecat," ucap Fahmi Idris singkat kepada Tempo, Senin (20/9) siang.
Pemecatan, menurut Fahmi, tertunda khusus bagi Jusuf Kalla, yang hingga Minggu dini hari tidak berhasil ditemui tim delegasi.
Seperti diketahui, rapat pleno petinggi Partai Golkar, Minggu (19/9) memutuskan, mengirimkan tim delegasi untuk mendekati Fahmi Idris dan kawan-kawan. Tujuannya, membujuk agar Forum Pembaruan Partai Golkar dibubarkan dan kembali kepada keputusan Rapimnas yang mendukung pasangan Megawati - Hasyim Muzadi dengan batas waktu Minggu (19/9) pukul 24.00 WIB.
Fahmi Idris bersama sebelas rekan lainnya saat ini dalam posisi dipecat sementara dari kepengurusan dan keanggotaan Partai Golkar.
Selain Fahmi, nama lain adalah Marzuki Darusman, Abu Sofwan, Abu Hanifah, Abu Hasan Sazili, Juniwati, Anton Lesiangi, Priyo Budi Santoso, Burhanudin Napitupulu, Edison Betaubun, dan Firman Subagyo.
Fahmi ditemui dua delegasi DPP Partai Golkar masing-masing Abdul Gaffur dan Fredy Latumahina di Hotel Hilton Minggu (19/9) pukul 21.00. Dalam pertemuan itu, Fahmi diminta menadatangani secarik kertas yang isinya permintaan agar dia dan rekan-rekannya menerima surat keputusan (SK) pemecatan semetara, membubarkan Forum Pembaharuan Partai Golkar, dan kembali menjalankan keputusan rapat pimpinan nasional (Rapimnas) yang mendukung pasangan Megawati - Hasyim Muzadi.
"Kalau forum pembaharuan memang sudah tidak ada lagi kegiatan. Saya bilang, saya mau menadatangani surat pernyataan itu asalkan surat keputusan pemecatan sementara dibatalkan dan dianggap tidak ada," kata Fahmi.
Karena delegasi DPP Partai Golkar menolak permintaan Fahmi, pertemuan pun berakhir tanpa ada titik temu.
Bersama rekan lainnya seperti Yuniwati, Marzuki Darusman, Fahmi sebenarnya kembali bertemu beberapa jam kemuidan di tempat yang sama. Namun pertemuan kedua kembali buntu dan tidak tidak membawa hasil positif bagi kedua belah pihak.
Fahmi menduga SK pemecatan resmi akan diterimanya hari Senin ini atau paling lambat Selasa (21/9) besok. Menurut Fahmi, Senin atau Selasa, isi surat keputusan bisa dipastikan pemecatan tetap dia dan rekannya yang sebarisan. "Yang saya dengar, cuma Priyo Budi Santoso yang membuat surat pernyataan dan kembali ke kubu Akbar Tandjung," ujar Fahmi.
Marzuki Darusman yang dihubungi terpisah membenarkan jika antara dirinya dengan tim delegasi yang diwakili Agung Laksono dan Theo L. Sambuaga menemui jalan buntu.
Marzuki mengaku tetap akan menempuh jalan organisasi dan hukum untuk menyelesaikan persoalan tersebut. "Untuk jalan hukum dua tim penasihat kita adalah saudara Nudirman Munir dan Tisnaya I Kartakusuma," katanya.
Dalam pertemuan dengan Agung dan Theo, Marzuki mengaku jalannya pertemuan hanya sepihak dan tidak ada kesempatan pembelaan bagi dirinya. Bahkan secarik kertas yang dibawa kedua orang delegasi dinilainya sebagai surat ultimatum. "Bagi saya sulit meneken surat itu karena sangat sepihak," katanya.
Fahmi merasa, konflik di tubuh Golkar ini sudah pada titik paling rendah dari konflik dan perbedaan pendapat sebelumnya. Karena ada di titik tersendah, maka sulit mengembalikan posisi Partai Beringin kembali ke posisi sebelun digelarnya pemilu.
Apa yang dilakukan Akbar Tandjung, menurut Marzuki harus dimintai pertanggung jawaban dalam Musyawarah Nasional (Munnas) Partai Golkar nanti. Sebab, keputusan memecat dirinya dan beberapa orang rekannya selain menyalahi aturan organisasi, juga melanggar Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Partai Golkar.
Baik Fahmi maupun Marzuki sangat memahami posisi Akbar yang kalut, panik, lalu membuat keputusan nekat, karena ada tekanan dari pihak luar. "Selama sejarah Golkar, pemecatan belum pernah terjadi. Ini karena Akbar panik," papar Fahmi Idris.
Ecep S. Yasa - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|