|
Nasional
LSM Protes Sayembara untuk Penemu Dr Azahari
Minggu, 19 September 2004 | 13:35 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Crisis Centre Korban UU Anti Terorisme (CC KUAT) Solo mempertanyakan kebijakan Mabes Polri yang menggelar sayembara bagi penemu keberadaan Dr Azahari dan Noordin M Top, dua orang yang diduga pelaku sejumlah peledakan di Indonesia.
Dimunculkannya sayembara itu justru akan memicu adu domba di kalangan masyarakat. Apalagi disebutkan pula, sayembara itu juga diperuntukkan untuk keberadaan pengikut Dr Azahari da Noordin M Top. “Masyarakat akan mudah saling curiga karena iming-iming duit yang besar,” papar Adi Basuki, Direktur CC KUAT Solo, saat menggelar jumpa pers Minggu (19/9).
Ditambahkan Adi Basuki, sayembara itu juga menunjukkan ketidakyakinan Polri dalam melakukan pengejaran terhadap tersangka pengeboman di Indonesia. Seharusnya Polri mengedepankan strategi dan metode kepolisian dalam memburu pelaku pengeboman. “Sayembara itu kan menunjukkan strategi dan metode kepolisian telah tumpul,” tandas Adi yang juga salah seorang pengurus MMI Surakarta ini.
Selain memprotes kemunculan sayembara, CC KUAT Solo juga mempersoalkan asal muasal dana milyaran untuk sayembara tersebut. “Pasalnya, dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi II DPR RI beberapa waktu lalu Kapolri mengaku polisi tidak punya duit. Jadi kalau kemudian muncul sayembara dengan hadiah milyaran rupiah patut dicurigai. Itu uang siapa, kalau sumbangan harus jelas darimana sumbangannya. Semua harus diaudit,” papar Adi.
Dikatakan Adi, pihaknya perlu curiga asal muasal uang itu karena khawatir hadiah sayembara itu berasal dari pengusaha hitam yang ingin konsesi tertentu. Ataupun sumbangan dari negara lain yang memiliki maksud tersembunyi dengan Indonesia.
”Jadi kalau memang berasal dari sumbangan, harus jelas disebutkan asal sumbangan itu. Kami menginginkan transparan. Kami khawatir Polri hanya dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu,” tambah M Taufiq SH MH, anggota CC KUAT Solo lainnya.
Pasalnya, untuk penggunaan uang sebesar itu, lanjut Taufiq, Kapolri harus sepengetahuan dari DPR. Apalagi sebelumnya dikatakan di depan DPR, polisi tidak punya uang. “Kalau tiba-tiba memberi hadiah sampai Rp 6 milyar itu sama saja kan membohongi DPR,” tandasnya.
CC KUAT Solo sendiri sepenuhnya mendukung langkah Polri dalam mengungkap tindak pidana terorisme. Hanya saja jangan sampai pengungkapan itu disisi lain mengorbankan orang lain. “Misalnya banyaknya salah penangkapan yang dilakukan Tim Anri Teror di sejumlah daerah. Bahkan sampai terjadi penyiksaan terhadap orang yang ditangkap. Ini kan sudah menyimpang. Apakah dengan dalih mengungkap terorisme, polisi bisa seenaknya melakukan penangkapan. Karena itulah CC KUAT ini dibentuk sejak dua tahun lalu,” papar Taufiq. (anas syahirul)
INDEKS BERITA LAINNYA :
|