|
Nasional
Polisi Klaim Temukan Keberadaan Azahari
Sabtu, 18 September 2004 | 12:51 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Polisi mengklaim telah menemukan lokasi baru persembunyian Dr. Azahari Husein dan Noor Din Mohammad Top, dua warga Malaysia tersangka sejumlah aksi pengeboman di Indonesia. Dalam kaitan ini, polisi dikabarkan telah menangkap dua orang di kawasan Bandung, Jawa Barat.
Kepala Polri Jenderal Da'i Bachtiar menyatakan, salah satu yang ditangkap mengaku sebagai pembawa bom yang kemudian diledakkan di depan Kedutaan Australia, Kuningan, Jakarta, Kamis (9/9) lalu. "Orang itu sudah mengakui bahwa bom yang dia bawa meledak di Kuningan," kata dia kemarin di Jakarta.
Da'i menolak menjelaskan lokasi Azahari dan Noor Din kini bersembunyi. Ia hanya mengisyaratkan, tempat itu di kawasan Jawa Barat. "Kemajuannya diceritakan begitu saja, (karena) tidak boleh mengganggu petugas kami yang sedang bergerak," ujarnya memberi alasan.
Yang jelas, menurut Da'i, orang yang baru ditangkap itu anggota kelompok Azahari. "Orang-orang itu sudah bersama Azahari sebelum peristiwa bom Kuningan. Mereka juga mengaku membawa bungkusan berisi bahan peledak," tuturnya.
Sumber Tempo di Polda Jawa Barat menyatakan, dua orang itu ditangkap di tempat terpisah. Satu orang ditangkap aparat di atas angkutan kota. Seorang lainnya ditangkap di rumah kontrakannya, daerah Pasirkoja, Bandung. Aparat kini sedang menyelidiki keterlibatan istri lelaki yang ditangkap di Pasirkoja itu.
Humas Polda Jawa Barat Komisaris Besar Muryan mengaku belum menerima laporan penangkapan. "Kalaupun terjadi penangkapan, pasti bukan dari Polda saja, tapi bersama-sama tim Mabes Polri. Kami hanya membantu," ujarnya.
Sepekan setelah bom meledak di Kuningan, yang menewaskan sedikitnya sembilan orang, polisi memang menggiatkan operasi di daerah. Polisi, misalnya, memeriksa sejumlah tempat di wilayah Surakarta. Menurut Kepala Polwil Surakarta Komisaris Besar Abdul Madjid, pemeriksaan dilakukan tim antiteror Mabes Polri.
Ia mengakui, Solo dan sekitarnya dinilai perlu mendapat perhatian khusus. "Istilahnya, jaringan teroris itu dari ujung ke ujung. Mungkin Surakarta sumbernya," tuturnya. Informasi menyebutkan, tim antiteror telah menyisir Kabupaten Wonogiri, Klaten, Sukoharjo, dan Solo.
Sementara itu, Rahmatullah dan istrinya, penduduk Perumahan Rewin, Waru, Sidoarjo, yang ditangkap sehari sebelumnya, telah dilepaskan. Demikian pula Agung, yang sedang bertamu ketika polisi datang ke rumah mereka. "Saya dianggap punya kaitan dengan Azahari dan Noor Din yang berkepala satu miliar," kata Rahmatullah.
Ia mengisahkan, pada awalnya polisi menuduh di rumahnya sedang diadakan "obrolan gelap", yang kemudian ia bantah. Beberapa menit kemudian, polisi lain datang dengan membawa surat perintah penggeledahan dan penangkapan. "Setelah itu saya dibawa ke Polres," tuturnya.
Pada Kamis sore, Rahmatullah dilepas. Demikian pula istri dan anaknya yang masih berusia tiga bulan. Namun, ia diminta menandatangani berita acara pemeriksaan, yang antara lain berisi aktivitasnya sehari-hari sebagai wiraswastawan dan guru les mengaji.
Rahmatullah mengaku kenal Nanang dan Sulaiman, dua orang yang kini dicari polisi berkaitan dengan kasus teror. Sulaiman, menurut Kepala Polda Jawa Timur Irjen Edy Sunarno, diduga merupakan tangan kanan Azahari untuk merekrut sukarelawan di Jawa Timur. "Dia asal Surabaya, tapi punya banyak KTP," kata Edy.
sunariah/rana/kukuh/sohirin/adi m/anas
INDEKS BERITA LAINNYA :
|