Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Hasan dan Jabir Dicurigai Sebagai Pengebom
Kamis, 16 September 2004 | 10:12 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Polisi menyebutkan dua nama, yakni Hasan dan Jabir, ada kemungkinan terlibat pengeboman di depan Kedutaan Australia, Kuningan, Jakarta, Kamis pekan lalu. Menurut Kepala Polri Jenderal Da'i Bachtiar, keduanya telah disiapkan oleh Noor Din Mohammad Top, buron warga negara Malaysia, untuk melakukan serangan.

"Kami masih mengejar mereka," kata Kepala Polri seusai rapat dengan Komisi Keamanan DPR kemarin di Jakarta. "Jika DNA-nya cocok dengan potongan tubuh (yang ditemukan di lokasi ledakan), kami duga mereka sebagai pelaku."

Kepada para anggota DPR, Da'i membeberkan kronologi dan hasil penyelidikan polisi. Pada sebuah slide, Hasan dan Jabir alias Nanang disebutkan sebagai anak buah Noor Din, yang bersama Dr. Azahari kini menjadi buron paling dicari. Polisi telah mengambil sampel darah dari orangtua Hasan dan Jabir sebagai pembanding. Ini untuk mengetahui apakah potongan tubuh yang ditemukan di lokasi kejadian adalah milik mereka.

Dalam jawaban tertulis yang disampaikan ke DPR, Hasan disebutkan terkait dengan Syaifudin Umar alias Abu Fida, guru mengaji yang telah ditangkap di Surabaya. Hasan ditulis tinggal di Blitar. Ia ikut Azahari dan Noor Din bersembunyi di rumah Abu Fida, kawasan Rungkut, Surabaya, Jawa Timur, selama tiga pekan.

Kepada Tempo yang menemui di rumahnya, Banyuurip, Surabaya, ibunda Hasan, Ny. Siti Muthmainah, mengaku telah diambil sampel darahnya. Ia mengaku dipanggil ke Markas Kepolisian Wilayah Kota Besar Surabaya beberapa jam setelah bom meledak di kawasan Kuningan, Kamis pukul 10.30 WIB.

Siti menuturkan, polisi yang memeriksanya memintanya untuk tidak panik dan berdoa agar mayat yang diduga sebagai pelaku bom bunuh diri bukan putranya, Hasan. Karena itu, Ny. Siti mengaku tidak tahu apakah putranya terlibat. "Dia tidak pernah menghubungi kami sejak dua bulan lalu," katanya.

Hasan yang lahir di Surabaya pada 1971 sempat menjadi Kepala Cabang PT (Persero) Pertani di Blitar. Ia lulusan Universitas 45 Surabaya. Dari hasil perkawinannya dengan Ny. Rubiyah, ia kini merupakan bapak dari dua anak. Menurut para tetangganya, penampilan Hasan biasa saja meski agak tertutup.

Nama Hasan kini masuk pada daftar pencarian polisi, bersama sembilan buron lain. Hadiah uang Rp 500 juta pun disediakan bagi mereka yang bisa memberi informasi mengenai keberadaannya. Hadiah yang lebih besar, Rp 1 miliar, disediakan untuk pemberi informasi keberadaan Azahari dan Noor Din. Secara total, polisi menyediakan Rp 6 miliar.

Kepala Badan Reserse dan Kriminal Komisaris Jenderal Suyitno Landung menyebutkan, polisi masih menelusuri tiga orang pembeli terakhir mobil boks Daihatsu Zebra putih, yang diduga sebagai pembawa bom. Sketsa wajah mereka juga sedang dibuat berdasarkan keterangan penjual mobil produksi 1990-an itu.

Suyitno tidak bersedia menyebutkan identitas pembeli terakhir itu. Ia pun menolak memberi konfirmasi apakah Sudadi, pria Surakarta yang diduga melarikan diri saat polisi menggerebek rumahnya pada akhir Juni lalu, termasuk di dalamnya. Suyitno hanya memastikan bahwa ketiga pembeli mobil itu laki-laki. "Pelaku bom bunuh diri bisa hanya satu orang atau lebih," ia menambahkan.

Dalam rapat kemarin, Kepala Polri menyimpulkan bahwa bom sengaja diledakkan di luar pagar besi Kedutaan Australia. Tempat itu, menurut dia, merupakan titik lemah pagar gedung. Jika diledakkan di depan pagar tembok, kata dia, dampaknya akan lebih kecil. "Kelompok teroris telah melakukan survei sasaran," tuturnya.

Da'i kembali mengungkapkan rekaman kamera sirkuit Plasa Kuningan, gedung yang tepat bersebelahan dengan Kedutaan Australia. Di sana tampak mobil boks yang diduga membawa bom melintas sekitar pukul 10.30. Pada rekaman kamera Plaza 89, yang berseberangan dengan Kedutaan, terlihat ledakan. Asapnya membubung sekitar 30 detik.

Polisi kemudian menemukan titik ledakan yang tertutup air karena bom meledak di saluran pipa air. Lubang pusat ledakan sedalam 47 sentimeter dengan diameter 3,2 meter. Polisi juga menemukan ban Daihatsu tersangkut di pagar besi, serpihan sasis, lemari kabinet berwarna. "Bahan peledak dibungkus supaya sulit dideteksi," kata Da'i.

martha warta s/sunudyantoro


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Imparsial: BIN Tak Berhak Tangkap Tersangka Terorisme
Ibunda Tersangka Bom Kuningan Dites DNA
Menko: Daya Tahan IHSG dan Rupiah Lebih Kuat
Pesantren Daarut Tauhid Diancam Bom
Korban Bom Kuningan Martinus Dimakamkan Hari Ini
Terdakwa Bom Marriott Divonis Besok
Kelompok Pengacara akan Tuntut Aparat
Pengamanan di Pelabuhan Merak Diperketat
Bank BRI Makassar Juga Diteror Bom
Menko Polkam Akui Intelijen Kurang Dilibatkan
> selengkapnya...


Referensi

Kronologi Kasus Abdul Jabar
Perjalanan Ali Gufron
Kronologi Kasus Imam Samudra.
Jenderal Laskar Istimata
Rangkaian Pencabut Nyawa
Imam Samudra: ”Demi Allah, Tak Akan Selesai”
InpresRI No. 5 Thn 2002 (kepada Kepala Badan Intelijen Negara sehubungan dengan terorisme)
Inpres RI No. 4 Thn 2002 (kepada Menteri Negara Koordinator Bidang Politik dan Keamanan sehubungan dengan terorisme)
UU RI No.15 Thn 2003 Tentang Penetapan PERPU 1/2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme, Menjadi Undang-Undang
> selengkapnya...

Website

Majelis Mujahidin Indonesia
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jakarta
Kepolisian Republik Indonesia
Departemen Luar Negeri


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< September,2004>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data