|
Nasional
JCC: SBY 3,2 Persen Lebih Populer
Rabu, 15 September 2004 | 21:10 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Polling yang dilakukan John Caine Center (JCC) menghasilkan perbedaan yang sangat tipis, yaitu 3,2 persen, antara pilihan kepada Susilo Bambang Yudhoyono dan Megawati Soekarnoputri pada pemilu putaran kedua nanti.
Hal ini dikatakan Andi Priyono, Sekretaris John Caine Center, hari ini (15/9) di Hotel Mulia Senayan, pada diskusi bertajuk Koalisi Kebangsaan versus Koalisi Kerakyatan.
Andi mengatakan polling yang dilakukan 1-3 September 2004 pada 3.255 responden di 41 kota/kabupaten di Pulau Jawa dan Bali bertujuan untuk melihat perbandingan suara responden dalam memilih Mega atau SBY. Selain itu, kata Andi, untuk melihat seberapa loyal simpatisan partai terhadap keputusan partainya.
Hal senada dikatakan Najib Atamimi, Ketua John Caine Center (JCC). Sebagai lembaga independen yang tidak memihak, kata Najib, JCC hanya ingin memberi gambaran riil grassroot. "Kita kembalikan kepada masyarakat," ujarnya.
Najib mengakui terkejut akan hasil polling yang mengatakan tipisnya perbedaan popularitas Mega dan SBY. Bisa jadi, katanya, karena memang daerah responden merupakan kantong-kantong PDIP dan Golkar.
Ia mengatakan daerah Jawa dan Bali dipilih sebagai daerah sampling karena dilihat dari pemilu putaran sebelumnya, suara dari dua daerah tersebut yang menentukan secara nasional.
Menurut Daniel Sparingga, polling yang dilakukan John Caine Center mengabarkan hasil yang agak berbeda dengan polling sebelumnya, yaitu jarak popularitas antara Mega dan SBY relatif sangat dekat.
"Itu menggambarkan perubahan di lapangan, atau juga bisa karena sample responden datang dari kantong-kantong PDIP dan Golkar," ujarnya.
Sementara itu, Suparlan, fungsionaris PDIP, menanggapi hasil polling John Caine Center, mengatakan hal itu menjadi masukan memperbaiki diri, citra partai dan komitmen partai. "Agar kita dapat gambaran, bahwa ada orang-orang yang sudah tidak senang lagi dengan kita," ujarnya.
Ia menjelaskan dua karakteristik pemilih, yaitu yang memiliki garis partai, dan massa mengambang. Massa mengambang, menurutnya adalah orang-orang proporsional, dan secara nasional proporsinya sekitar 30 persen dari seluruh pemilih.
"Mereka tidak bisa digambarkan akan memilih ke mana. Sedang pada 70 persen, mereka sudah mempunyai pilihan, ada atau tidak adanya kampanye," kata anggota penasihat fraksi PDIP DPR RI.
Perebutan 30 persen massa mengambang, menurut Suparlan, membutuhkan keunggulan dari tim sukses capres untuk mensosialisasikan program dan janjinya dalam memperbaiki ekonomi politik dan keamanan.
Namun, ia tetap optimis dengan sosialisasi hingga hari-hari terakhir akan terus berjalan dengan mekanisme yang bermacam-macam. "Apalagi dengan hanya tinggal 2 calon tersisa sekarang," tegasnya.
RR. Ariyani - Tempo
INDEKS BERITA LAINNYA :
|