|
Nasional
Presiden Amanatkan Jajaran Keamanan Tingkatkan Kewaspadaan
Senin, 13 September 2004 | 19:41 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Presiden Megawati Soekarnoputri memberikan amanat kepada Menteri Koordinator Politik dan Keamanan ad interim Hari Sabarno, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto dan Kepala Polri Jenderal (pol.) Dai Bachtiar agar meningkatkan kewaspadaan dan pengamanan, menjelang pemilihan presiden.
"Terutama di Jakarta, kedutaan-kedutaan, obyek-obyek vital dan strategis lainnya," kata Presiden kepada wartawan dalam konferensi persnya seusai rapat terbatas bidang politik dan keamanan di Istana Negara, Jakarta, Senin (13/9).
Presiden juga meminta Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) AM Hendropriyono meningkatkan operasi intelijen untuk mengumpulkan informasi yang terkait dengan upaya pencegahan aksi terorisme. Kepada Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, presiden juga berharap, bersama-sama polisi dapat merealisasikan pengamanan di ibukota negara.
Rapat terbatas kali ini melibatkan seluruh jajaran keamanan. Selain tiga Menteri Koordinator Bidang, Panglima TNI, Kepala BIN, menteri Luar Negeri, dan Kapolri, seluruh Kepala Staf TNI dari semua angkatan juga datang.
Kapolda Metro Jaya Irjen Firman Gani yang bertanggungjawab atas keamanan Jakarta juga dilibatkan. Agenda rapat kali ini, selain mengevaluasi penanganan bom Kuningan, juga membahas kesiapan pengamanan menjelang pemilihan presiden.
Presiden pada kesempatan itu juga menghimbau masyarakat tetap tenang tanpa melupakan kewaspadaan. Sikap waspada masyarakat tetap diperlukan untuk membantu polisi mengamati setiap hal yang mencurigakan. Menurut Presiden, sebaik apapun pengamanan yang digelar aparat keamanan, tanpa partisipasi masyarakat tidak akan berjalan optimal. "Saya juga meminta pers membantu menentramkan masyarakat," katanya.
Merespon amanat presiden, Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar mengatakan polisi telah menetapkan status Siaga Satu hingga pemilihan presiden selesai. 200 ribu personil kepolisian akan digelar di semua wilayah untuk pengamanan, terutama di Jakarta. Menurut Da'i, pemeriksaan di pusat-pusat keramaian yang selama ini dilakukan harus ditingkatkan.
Polisi sendiri, kata Da'i, hingga saat ini masih terus mencari pelaku dan bukti-bukti dari bom Kuningan. Polisi juga belum berani memastikan keterkaitan pelaku aksi tersebut dengan Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo maupun dengan Majelis Mujahidin Indonesia. ?"ang jelas kuat dugaan, pelakunya dari kelompok yang sama dengan bom Bali dan Marriot," katanya.
Kini polisi masih terus mengejar siapa pemilik sebenarnya dari mobil box Daihatsu yang diduga menjadi pembawa bom. Masalahnya, ujar Da'i, mobil tersebut dijual melalui calo, yang kemudian dijual lagi. Dia membantah bahwa masih ada satu mobil box lagi yang diduga dipersiapkan untuk aksi lainnya.
Berdasarkan informasi yang diperoleh polisi dari kelompok pelaku bom Marriot dan Bali yang telah tertangkap, Da'i mengungkapkan, masih ada sisa tiga orang dari kelompok ini yang dipersiapkan untuk aksi bom bunuh diri. Salah satunya terungkap dari surat yang disampaikan mereka kepada ibunya. Namun Da'i menolak menjelaskan identitas ketiga orang itu.
Namun Kapolda Metro Jaya Irjen Firman Gani mengakui masih ada beberapa orang yang tersisa dari kelompok itu yang belum tertangkap dan dipersiapkan untuk aksi bom bunuh diri. Mereka direkrut dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Salah satu yang terungkap melalui surat kepada ibunya, berasal dari Jawa Timur. "Saya lupa kotanya," katanya saat ditanya apakah berasal dari Lamongan.
Sapto Pradityo - Tempo News Room
INDEKS BERITA LAINNYA :
|