|
Nasional
Pelaku Pengeboman Diduga 3 Anak Buah Azahari
Sabtu, 11 September 2004 | 11:15 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Polisi mencurigai tiga orang sebagai pelaku pengeboman di dekat Kedutaan Australia, Kuningan, Jakarta, Kamis lalu. Menurut polisi, mereka telah direkrut oleh dua buron paling dicari, yakni Dr. Azahari Husein dan Noor Din Mohammad Top, untuk melakukan pengeboman bunuh diri.
Menurut juru bicara Markas Besar Kepolisian RI Inspektur Jenderal Paiman, tiga orang itu bahkan telah mengirimkan surat kepada keluarga masing-masing untuk mengakhiri hidup dengan bom. "Mereka telah disumpah untuk melakukan pengeboman oleh tersangka Azahari dan Noor Din," katanya kepada wartawan kemarin di Jakarta.
Kepala Badan Reserse dan Kriminal Komisaris Jenderal Suyitno Landung dalam konferensi pers di tempat terpisah menjelaskan, Azahari dan Noor Din sebenarnya merekrut sembilan orang. Enam orang di antaranya sudah ditangkap di Jawa Timur, sehingga tinggal tiga orang yang buron. Mereka, menurut dia, menyatakan siap bunuh diri. "Istilahnya temanten (pengantin)," kata dia.
Suyitno kemarin memastikan bahwa bom yang menewaskan sembilan orang itu adalah aksi bunuh diri. Dari hasil rekaman kamera pengamanan (CCTV) Plaza Kuningan, Plaza 89, serta Kedutaan Australia yang letaknya berdekatan, disimpulkan bahwa bom dibawa mobil boks Daihatsu putih.
Menurut Suyitno, petugas Laboratorium Forensik menemukan as roda depan mobil yang terpental di pagar Kedutaan dan Graha Binakarsa. Logo Daihatsu yang biasa menempel di bagian depan mobil juga ditemukan. Temuan itu identik dengan mobil yang terekam CCTV.
Rekaman di tiga gedung menunjukkan, mobil boks semula melaju di jalur cepat Jalan Rasuna Said dari arah Mampang menuju Menteng. Mobil kemudian berputar balik, masih di jalur cepat. Sebelum Plaza Kuningan, mobil masuk ke jalur lambat. Di sini mobil terekam kamera. "Rekaman ini 29 detik sebelum meledak," kata Suyitno.
Suyitno menyatakan, waktu terjadinya ledakan belum dipastikan karena ada perbedaan penyetelan waktu pada jam masing-masing gedung. Jam di tembok Kedutaan Australia menunjukkan pukul 10.34 WIB, sedangkan di Plaza Kuningan menunjuk pukul 10.30.
Menurut dia, ada tiga jenazah yang semula tidak dikenali. Satu jenazah kemarin diidentifikasi sebagai Suyatno. Dua jenazah lainnya masih belum dikenali, sehingga belum dipastikan apakah mereka berada pada mobil yang dicurigai. "Atau justru ketiganya (berada di mobil)," kata dia.
Kepala Pusat Laboratorium Forensik Brigadir Jenderal Dudon Setyaputra menyebutkan, bom dibuat dari bahan dominan TNT yang dimodifikasi dengan sulfur. Menurut dia, ledakan cukup dahsyat karena boks mobil sarat bom. "Apalagi gedung-gedung di sekitarnya rapat," katanya.
Ahli bom Akhmad Rifai menyangsikan kesimpulan polisi itu. Kepada Tempo, Kepala Bidang Teknologi Industri Senjata dan Alat Utama Hankam Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi itu justru menduga bom berasal dari sepeda motor yang luluh-lantak di lokasi kejadian.
Rifai menjelaskan, suara ledakan dan getaran yang menyebar hingga membuat dinding dan kaca gedung di sekeliling Kedutaan rontok menandakan bahwa bahan peledak berada di ruang terbuka. Kekuatan bahan peledak yang diletakkan di tempat terbuka, menurut dia, akan lepas dan menyebar karena tidak ada tabir penahan.
Koordinator pelaksana pembuatan efek ledakan TNI AU itu menjelaskan, bom yang diletakkan di ruang tertutup akan menghasilkan suara ledakan lebih dahsyat, tetapi tidak menyebar. Lubang yang ditimbulkan juga lebih dalam.
Indikasi lain, ledakan tidak menimbulkan semburan api. Bom yang dibawa mobil akan menimbulkan semburan api, dan daun-daun pepohonan di sekitarnya akan terbakar. Hal itu tidak terjadi pada Kamis lalu. "Bahan bakar sepeda motor tidak banyak, sehingga tidak cukup kuat menghasilkan semburan api," tuturnya.
Ia menduga pengendara sepeda motor tidak tahu bahwa barang yang dibawa adalah bom. Begitu melewati Kedutaan, pengebom sebenarnya menekan alat pemicu dari jarak jauh. Inilah, kata dia, yang menjelaskan mengapa bom "tidak tepat sasaran" dan meledak beberapa meter sebelum gerbang Kedutaan.
l martha/maria u/eduardus/sunariyah
INDEKS BERITA LAINNYA :
|