|
Nasional
Yang Terpilih di Muktamar NU Tak Boleh Tergoda Kekuasaan
Rabu, 08 September 2004 | 23:30 WIB
TEMPO Interaktif, Surabaya: Siapapun yang terpilih dalam muktamar Nahdlatul Ulama tidak boleh tergoda oleh kekuasaan. Demikian dikatakan Ketua Pelaksana Harian PBNU KH Masdar Farid Mas'udi kepada Tempo News Room di DPW PKB Jatim, Graha Astra Nawa, Surabaya, Rabu (8/9). Masdar ke Surabaya untuk melihat bangunan museum NU yang terletak persis di depan Graha Astra Nawa DPW PKB Jatim.
"Bagaimana ada keputusan di muktamar siapapun yang duduk dalam kepengurusan NU tidak boleh tergoda oleh kekuasaan," tegas Masdar. Menurutnya, jika tak ada aturan yang jelas, banyak orang bermimpi menjadi ketua PBNU sebagai mesin politik untuk menjadi calon presiden dan wakil presiden. Jabatan ketua itu diperebutkan untuk menjadi capres-cawapres. Atau, kalau di bawah, lamunannya jadi gubernur atau bupati.
Karena itu, menurut Masdar, dalam muktamar nanti harus ada aturan yang jelas, realistis dan fair. Siapa saja yang mempunyai keinginan dan menyatakan minatnya memperebutkan kekuasan harus secara otomatis mundur dari jabatan NU. Ini diperlukan supaya NU tak dijadikan alat untuk memobilisasi massa dukungan, apalagi nantinya gubernur dan bupati dipilih langsung. "Bayangin saja kalau dibiarkan begitu saja, pimpinan NU menggunakan organisasi untuk mencari dukungan demi jabatan-jabatan penting seperti itu," tambahnya.
NU kata Masdar, tak boleh dijadikan alat dukung mendukung. Biarlah pekerjaan itu menjadi porsi partai politik, bukan hanya PKB tapi semua partai politik yang ada. Semua partai berhak melakukan kerja-kerja politik seperti itu. Jadi disaat kekuasaan diperebutkan, NU sebaiknya mengambil jarak.
Dampaknya jika NU jadi mesin politik dukung mendukung, papar Masdar, akan terjadi proses demoralisasi pada NU dan para tokoh-tokohnya. Para tokoh ini termasuk ulama akan menjadi mesin politik. Ini tentu akan rawan. Misalnya, jika kena wabah money politics, atau konflik sesama ulama karena beda pilihan. "Jika seperti itu ulama gimana, umatnya bagaimana," tanyanya. Ia menilai, sekarang mulai ada tanda-tanda seperti itu.
Adi Mawardi - Tempo News Room
INDEKS BERITA LAINNYA :
|