|
Nasional
Tim Mega: Pembunuhan Caleg PDIP Bermuatan Politik
Kamis, 15 Juli 2004 | 18:53 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Peristiwa pembunuhan yang menimpa keluarga calon legislatif terpilih PDI Perjuangan, di Bondowoso, Jawa Timur, kemarin diduga kuat dilakukan karena alasan politik.
Salah seorang anggota tim sukses Megawati–Hasyim Muzadi, Gayus Lumbun, dalam konferensi persnya hari ini (15/7) mengatakan pembunuhan bukan karena faktor harta, tetapi diduga kuat dilakukan karena adanya kepentingan politik.
“Bagi saya ini sebuah peningkatan dari tindakan kekerasan di era pemilu presiden, yang sebelumnya diharapkan berjalan damai, tapi ternyata masih ada tindak kekerasan oleh segolongan orang dengan cara-cara lama, artinya dalam proses pemenangan dengan sistem yang sangat tidak diharapkan,” ujar Gayus yang didampingi tim sukses lainnya, Trimedya Panjaitan dan Marwah M. Diah.
Trimedya mengatakan, dari data sementara yang telah dikumpulkan PDI Perjuangan, tindak kekerasan terutama datang dari kelompok tim capres Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “Ya, terus terang sementara ini yang bisa kami tangkap dari capres Jenderal Yudhoyono,” katanya.
Penunjukan terhadap tim capres SBY, karena tindak kekerasan umumnya dilakukan secara sistematis dengan model-model militer. ”Apakah pakai Babinsa dan lainnya, seperti itu yang ditemukan sementara ini,” ungkapnya.
Dia menambahkan, tindak kekerasan ini diduga juga terkait dengan persaingan yang terjadi dengan kelompok tim sukses capres yang lain. “Secara internal (pembunuhan dilakukan orang PDIP) sendiri tidak mungkin karena seluruh proses pemilu sudah selesai,” ujarnya menyangkal pembunuhan itu bisa saja dilakukan kader PDI Perjuangan lainnya.
Menurutnya, pihaknya (PDI Perjuangan) sudah menangkap adanya upaya tindak kekerasan yang dilakukan kelompok tim capres, terutama SBY, terhadap kader-kader PDI Perjuangan yang telah berhasil memenangkan PDI Perjuangan di daerahnya, baik saat pemilu legislatif maupun pada kampanye pemilu presiden.
“Politik-politik kekerasan dan kotor seperti ini sudah bekerja, misalnya di Cilacap,” ujar Medya. Ia menjelaskan, di Cilacap PDIP hampir berhasil memenangkan lebih dari 50 persen suara, namun ada pihak tertentu yang tiba-tiba mempertanyakan ijazah Ketua DPC PDI Perjuangan Cilacap.
Peristiwa kekerasan lain yang memperkuat dugaan bahwa hal itu dilakukan tim sukses SBY, yaitu tindak kekerasan yang menimpa Badri (tim kampanye Mega-Hasyim) di Jambi. Trimedya mengatakan penganiayaan terhadap Badri dilakukan tim sukses SBY saat Badri memperbanyak selebaran yang berjudul 'Sisi Gelap Sang Jenderal Susilo Bambang Yudhoyono'.
Selebaran (berjumlah tiga lembar), yang menurut Trimedya tidak diketahui sumbernya, sebelum diambil dari tukang fotokopi sudah diambil oleh tim sukses SBY sambil menghajar Badri. Kasus yang terjadi pada 8 Juli ini sudah ditangani Polri Jambi.
Pihak PDI Perjuangan sendiri sangat menyayangkan kejadian tersebut. Menurut mereka, jika memang diketahui ada tindakan pelanggaran, baik berupa tindak pidana pemilu maupun tidak pidana umum, seharusnya dilaporkan ke Panwaslu atau kepolisian.
“Tidak perlu main hakim sendiri, tapi dilaporkan ke kepolisian,” ujarnya sambil mengutip pernyataan temannya bahwa sebelum berkuasa saja sudah main hakim sendiri, bagaimana kalau sudah berkuasa.
Trimedya mengatakan, saat ini tim sukses Mega–Hasyim maupun PDI Perjuangan sedang mengumpulkan kecurangan-kecurangan yang diperoleh pasangan Mega-Hasyim selama proses pemilu presiden. “Jika sudah terkumpul akan diungkap pada 26 Juli nanti,” tandas Trimedya.
Ia menambahkan, “Ini agar jelas siapa yang kelihatannya tampilannya manis-manis tapi ternyata perilaku yang ditunjukkan tidak sesuai, agar publik tidak terpesona dengan senyuman yang ganteng dan manis tapi perilakunya mengecewakan kita semua.”
Untuk membantu mengungkap tuntas peristiwa tersebut, PDI Perjuangan akan mengirim timnya ke Bondowoso. Namun, selain menyerahkan kasus tersebut ke polisi, PDI Perjuangan mengimbau agar seluruh tim sukses Mega-Hasyim tidak terpancing dengan situasi penganiayaan oleh tim sukses capres lain, dengan ciri-ciri kekerasan, serta tidak melakukan pembalasan.
Sunariah – Tempo News Room
INDEKS BERITA LAINNYA :
|