Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Meneg LH dan Menhut Beda Pendapat Soal Asap di Riau
Kamis, 24 Juni 2004 | 14:43 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Menteri Negara Lingkungan Hidup Nabiel Makarim memperkirakan titik api di Riau yang menyebabkan kabut asap masih ada sekitar 200 titik. Pihaknya saat ini tengah melacak titik api tersebut satu per satu untuk mengetahui penyebabnya. Demikian Nabiel, usai menghadap Presiden Megawati di Istana Negara, Jakarta, kamis (24/6).

Perhitungan Nabiel, rupanya berbeda jauh dengan
perhitungan Menteri Pertanian M. Prakosa. Ditemui di
tempat yang sama, dia memperhitungkan jumlah titik api
itu, Rabu (23/6) kemarin, tinggal 20. Jumlah tertinggi
adalah dua hari yang lalu, yang mencapai 400 titik.

Dikonfirmasi soal perbedaan pendapat itu, Prakosa
berkilah kisaran Nabiel mungkin di seluruh Indonesia.
Namun ketika ditegaskan bahwa angka itu untuk Riau
saja, dia tetap berkukuh pada perhitungannya.

Meski berbeda pendapat, keduanya sepakat kabut
asap itu harus diantisipasi. Prakosa mengerahkan
pasukan pemadam api kebakaran hutan yang disebut
Manggala Agni sebanyak 500 orang di Riau. Sedangkan
Nabiel mengirim informasi kepada Bupati dan Walikota di provinsi RIau mengenai posisi titik-titik api di wilayah masing-masing.

Nabiel mengakui antisipasi terhadap asap, bila
penyebabnya adalah aktivitas masyarakat, relatif lebih
sulit. Tak cuma itu, pemerintah daerah pun tampaknya
tak menomor-satukan penanganan bencana yang terjadi
tiap tahun tersebut. "Masih ada keengganan mereka
menghadapi masyarakat, kalau (penyebabnya) perusahaan
lebih mudah," kata dia seraya menambahkan dirinya sudah memerintahkan stafnya melacak perusahaan yang menjadi dalang pembakaran hutan atau lahan untuk kemudian dibawa ke pengadilan.

Lagipula, lanjut Nabiel, sudah terlanjur ada pandangan
yang seakan-akan membiarkan bencana itu terjadi tiap
tahun. Padahal, bencana itu bisa dihindari bila semua pihak melakukan antisipasi pada saat yang tepat, yakni saat api masih kecil.

Sementara itu, Menteri Prakosa mengatakan, kabut asap
itu disebabkan kebakaran hutan dan lahan. Dikatakannya pihaknya senantiasa berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mengantisipasi hal tersebut. Dia sepakat dengan Nabiel, yang terpenting adalah mencegah bencana itu tak terjadi.

Prakosa berharap masyarakat menyadari pembukaan lahan dengan membakar sangat membahayakan dan hasilnya
adalah kabut asap itu. Disinyalir penyebab utama
kabut asap belakangan justru aktivitas masyarakat
tersebut. "Untuk skala luas memang perlu kesadaran
semua pihak, terutama pelaku," katanya.

Deddy Sinaga - Tempo News Room

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Gubernur Sumsel Minta Bupati Waspadai Asap
Jarak Pandang di Pekanbaru Belum Normal
Kabut Asap Tunda Penerbangan di Pekanbaru
Dishut Kalteng Aktifkan Satelit Pemantau NOAA
Kabut Asap Makin Tebal di Palangkaraya
Kebakaran di Kawah Ijen Banyuwangi Semakin Meluas
150 Polisi Terjebak Api di Puncak Gunung Slamet
Pemerintah Singapura Belum Komplain Serangan Asap


Referensi

Kebakaran Hutan: Bencana Tahunan Riau

Website

Walhi


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< June,2004>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data