|
Nasional
FPI: Oknum Aparat Dalangi Kasus Yadika
Minggu, 13 Juni 2004 | 15:05 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Front Pembela Islam menuding oknum aparat dalangi kasus Yayasan Abdi Karya (Yadika) di Desa Cikampek Selatan, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang. Menurut Panglima Laskar Pembela Islam Jafar Sidik, aksi pemukulan di wilayah Yadika itu didalangi oknum aparat dari TNI Angkatan Darat.
“Toto, oknum aparat TNI AD dalangi preman-preman di Karawang,” kata Jafar ketika dihubungi Tempo News Room, Minggu (13/6) siang. Toto diduga sebagai “orang yang dibayar” Yadika untuk menyerang para pengunjuk rasa. Pasalnya, ada sejumlah ustadz di Karawang yang pernah diancam oleh orang suruhan yang mengaku disuruh Toto.
Ancaman berlangsung dalam 5 bulan belakangan. Nama Toto ini pun sudah pernah dilaporkan ke Kepolisian dan Denpom TNI, tapi tidak ada tanggapan serius. Jafar tidak mengetahui pasti kesatuannya.
Seperti diberitakan, pada Jumat (11/6), sekitar pukul 14.30 WIB ribuan massa tergabung dalam Gerakan Muslim Cikampek berunjuk rasa di depan sekolah Yadika, di Desa Cikampek Selatan, Kecamatan Cikampek, Kabupaten Karawang. Mereka berasal dari FPI Cikampek, Hisbullah, Angkatan Muda Ka'bah, Banser Nahdatul Ulama dan Angkatan Muda Muhamadiyah. Tuntutannya agar pembangunan sekolah dihentikan, karena ijin mendirikan bangunan (IMB) dicabut Bupati Karawang.
Para demonstran lalu menjebol pagar sekolah, membakar tumpukan kayu dan merubuhkan gedung sekolah yang sudah setengah jadi itu. Sebelum berunjuk rasa, mereka istigotsah di depan Kecamatan Cikampek.
Namun sekitar pukul 17.30 WIB, sekitar 30 orang yang diduga “orang bayaran” menyerang para pengunjuk ras yang pulang dari sekolah milik Yadika. “Mereka dicegat, dihantam dengan balok kayu, samurai dan golok saat naik kendaraan motor. Para penyerang itu ada di pinggir jalan sebagai pejalan kaki yang sudah membawa senjata tajam di wilayah Yadika,” tutur Jafar.
Akibatnya, simpatisan Front Pembela Islam Yanto Pribadi, 40 tahun, tewas akibat luka pukulan balok kayu di kepalanya. Yanto sempat koma tapi kemudian menghembuskan nafas terakhirnya di RSCM, Jakarta sekitar pukul 08.30 WIB, Sabtu (12/6). Korban lainnya adalah Hery yang mengalami luka berat, dan dua lainnya yakni Nurdin dan Yaki mengalami luka ringan.
Jafar mengatakan, ratusan aparat yang berada di lokasi tidak dapat melakukan tindakan atas aksi amuk massa itu. “Mungkin, aparat dari kepolisian ada juga yang dibayar Yadika,” ungkapnya. Dan bila sampai besok Senin (14/6) polisi tidak berhasil menangkap otak penyerangan itu, massa FPI dari Jakarta dan Jawa Barat akan mendatangi Polres Karawang pada Selasa (15/6) mendatang,
Dihubungi terpisah, Ketua DPP Pusat FPI Dr Hilmi Bakar mengatakan, para pengunjuk rasa yang tergabung dalam FPI tidak melakukan penyerangan gedung sekolah dan tidak masuk dalam daftar tersangkadi Polres Karawang.
Tetapi, anggota FPI menggelar aksi demonstrasi karena pembangunan gedung sekolah terus dilanjutkan. “Ini aksi yang kedua kalinya,” katanya. Aksi dilakukan bersama-sama warga di Karawang. Korban jiwa termasuk yang luka-luka adalah anggota dan simpatisan FPI.
Sementara itu, dari Karawang diberitakan bahwa pembangunan sekolah dilanjutkan karena PTUN telah memenangkan gugatan pra peradilan atas kebijakan bupati untuk pembangunan sekolah untuk tingkat SD,SMP dan SMA Kristen itu.
Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Karawang Komisaris Polisi Iwan Ridwan mengatakan masih melakukan pengejaran terhadap pelaku penyerangan. “Saya masih tangkap lagi,” katanya yang dihubungi Minggu siang. Ketika dimintai nama-namanya, ia tidak bersedia menyebutkan. “Nanti malam saja, saya masih sibuk,” ujarnya.
Martha Warta – Tempo News Room
INDEKS BERITA LAINNYA :
|