Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Rini Soewandi: Undang-Undang Kepabean Masih Lemah
Selasa, 01 Juni 2004 | 22:25 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Menteri Perindustrian dan Perdagangan Rini MS Soewandi meminta sanksi yang lebih tegas untuk atasi penyelundupan. "Masa' saya harus jadi polisi dulu untuk menindak penyelundup. Atau saya perlu diangkat dulu menjadi Dirjen Bea Cukai dulu," kata Rini saat melihat penjualan produk tekstil bekas di pasar Senen Jakarta Pusat, Selasa (1/6).

Menurut Rini, kelemahan Indonesia mengatasi penyelundupan terletak di dalam Undang-Undang Kepabeanan. "Ini harus di ubah, sanksi pidana harus diperketat," katanya. Saat ini kebanyakan penyelundup yang tertangkap hanya dikenai denda saja. "Jadi penyelundup bisa berhitung kalau dia masukin 10 jenis barang, tidak tertangkap kan masih untung 7. Akhirnya jadi hitung-hitungan bisnis, karena dengan uang barang (selundupan) bisa keluar," kata dia

Rini menegaskan hal ini harus diperbaiki. "Bayangkan, kalau saya teriak-teriak, sesaat semua bersih. Tapi ketika saya konsentrasi mengurus lain, misal beras, atau gula, penyelundupan barang lain jalan lagi," keluhnya. Kenyataan ini menunjukkan kurangnya kesadaran dan komitmen bersama. "Kan tidak mungkin saya melihat terus prosesnya. Kalau saya diberi hak untuk menembak kaki penyelundup, sudah saya lakukan. Sebab kalau tidak begitu tidak akan jera," kata dia.

Komitmen bersama ini harus dimiiki oleh pihak-pihak yang memang berwenang atau bisa melakukan perubahan. Ia mencotohkan seperti berbagai instansi atau departemen pemerintahan yang terkait dalam proses pengiriman barang. "Misalnya saya teriak-teriak jangan masukin pakaian bekas, tapi orang bilang perlu. Padahal ini tidak menyerap tenaga kerja kita," kata Rini. Selama ini yang menjadi pegangan bagi dia, seharusnya orang Indonesia bangga memiliki baju hanya satu asal produksi dalam negeri dari pada memiliki 5 baju bekas dari negara lain.

Dalam pantauan sekilas di Pasar Senen, Rini menyatakan tidak ada lonjakan harga bahan pokok. "Hari pertama kampanye Capres dan Cawapres harga masih stabil. Beradasarkan pantauan saya di Jakarta dan laporan daerah tak ada kenaikan harga. Suplai juga lancar," kata dia. Dalam sidaknya ke pasar Senen pihaknya hanya menemukan kenaikan harga telur ayam sampai Rp 8000 per kilogram. Normalnya, kata pedagang yang ditemui Rini, Rp 7000 per kilo. Kemudian naik menjadi Rp 7.500 sampai 7.800.

Pedagang tersebut juga mengeluhkan harga telur di retail modern seperti Carefour yang lebih murah, sekitar Rp 6.000 per kilonya. Menanggapi hal ini, Rini berjanji mengusut mengapa harga telur bisa naik. "Saya juga akan cek ke Carefour Tanah Mas," kata dia.

Anastasya Andriarti - Tempo News Room

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

TNI AL Tangkap Penyelundup Pasir Timah
Sapi Ilegal Dimusnahkan
Bungaran Tekan Badan Karantina Atasi Daging Ilegal
Depperindag Curigai Lima Perusahaan Selundupkan Elektronik
Pedagang Daging Tradisional Resah
Polisi Tangani Kasus Daging Selundupan
Daging Selundupan Marak di Pasar dan Swalayan
Pemusnahan Gula Selundupan Masuk Tahap Ketiga
Pewarnaan Minyak Tanah Mulai Besok
Menperindag: Indonesia Tempat Transit Produk Cina
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< June,2004>>
MSnSl RK JS
  01 02 03 04 05
06 07 08 09 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data