Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Xanana Bantah Wiranto Beri Janji
Senin, 31 Mei 2004 | 13:41 WIB

TEMPO Interaktif, Denpasar:Presiden Timor Leste Xanana Gusmao membantah pertemuannya dengan calon presiden Partai Golkar Wiranto menghasilkan janji-janji yang akan direalisasikan bila Wiranto terpilih menjadi presiden.

“Kalau anda tanya itu anda tidak mengerti arti silaturahmi,” katanya di ruang VIP Bandara Ngurah Rai Denpasar sesaat sebelum kembali ke Dili, Senin (31/5).

Menurut Xanana, pertemuan itu hanyalah pertemuan dua orang sahabat yang–dengan mengutip Wiranto-pernah saling berhadapan di masa lalu. Dia juga membantah memberikan janji kepada Wiranto untuk menghentikan kasus dugaan keterlibatan Wiranto dalam pelanggaran HAM di Timtim pasca jajak pendapat guna memuluskan perjuangan Wiranto.

Xanana sendiri menolak memberikan waktu untuk melakukan jumpa pers. Wartawan hanya diberi kesempatan untuk mencegatnya dan mengajukan dua pertanyaan saja. Padahal sebelumnya melalui SMS, Koordinator Media Center Wiranto, Despen Ompusungu, menyebut akan adanya acara jumpa pers itu.

Seperti diberitakan sebelumnya, Wiranto dan Xanana Gusmao telah melakukan pertemuan pada Sabtu (30/5) malam di Hotel Oberoi, Legian, Kuta. Usai pertemuan tertutup selama 1,5 jam itu Wiranto mengatakan bahwa keduanya hanya melangsungkan pertemuan kekeluargaan.

Kasus dugaan pelanggaran HAM, menurutnya, sama sekali tidak dibicarakan. Anehnya, kuasa hukum mantan Panglima ABRI itu, Muladi dan Yan Juanda Saputra, turut serta dalam pertemuan itu.

Sementara itu, Jaksa Agung Timtim Longinhos Monterro mengungkapkan, kasus dugaan pelanggaran HAM itu secara resmi belumlah ditutup. Tapi pihaknya masih menunda pengajuan berkasnya ke pengadilan untuk menunggu keputusan Dewan Nasional tentang masalah itu.

Dewan Nasional sendiri akan dibentuk dalam satu-dua bulan ini dan akan berfungsi untuk menentukan garis-garis besar kebijakan Timor Leste, khususnya dalam bidang hukum. “Undang-undangnya sudah dibuat dan pada bulan Agustus akan mulai bersidang,” tegasnya. Dewan ini akan dipimpin oleh presiden dan beranggotakan perwakilan parlemen, Mahkamah Agung dan perwakilan masyarakat.

Meskipun belum terbentuk, menurut Monterro, saat ini ada visi bersama di kalangan pemerintah dan parlemen, bahwa kasus-kasus yang ditangani oleh Serious Crime Unit (SCU) bentukan PBB, bukanlah tanggung jawab pihak Timor Leste untuk menuntaskannya. Selain itu ada kesepakatan pula bahwa negara baru tersebut tidak akan berkonfrontasi dengan Indonesia demi kepentingan nasionalnya.

Monterro mengatakan, di masa lalu SCU memang memiliki kekuatan dan kewenangan yang sangat luas. Namun dengan peralihan pemerintahan ke Pemerintahan Timor Leste, maka kewenangan itu kini berada di bawah kendalinya.

“Memang masih ada orang asing di SCU yang menentang kebijakan-kebijakan saya,” katanya. Di luar mereka itu, menurutnya, kalangan LSM dan aktivis HAM masih sulit menerima kebijakan pemerintah. SCU sendiri, tegas dia, akan ditutup pada Desember mendatang.

Ketika ditanya apa reaksi Pemerintah Timor Leste bila nantinya PBB membentuk panel khusus yang akan mengkaji ulang kasus tersebut, Monterro menyebut tidak berwenang menjawabnya. “Masalah itu sudah dibicarakan Presiden dengan Ibu Mega, silahkan tanya beliau,” katanya.

Menurut Monterro, masalah pelanggaran HAM itu memang tidak menjadi prioritas Presiden Xanana. Hal itu karena visi jangka panjang Xanana yang lebih berkonsentrasi pada penegakan hukum di dalam negeri.

“Bayangkan saja untuk kasus pelanggaran HAM itu kami bisa mengeluarkan 4 juta dolar setahun,” katanya. Selain itu, pertimbangan stabilitas pembangunan di Timor Leste yang sangat tergantung pada hubungan baik dengan Indonesia juga menjadi faktor utama.

Pertemuan dengan Wiranto, menurutnya, bukan berarti mereka yakin bahwa Wiranto akan menjadi Presiden RI mendatang. Sebab, komitmen untuk berhubungan baik dengan Indonesia tidak tergantung siapa pemimpin nasionalnya. “Kalau pun Ibu Megawati yang menjadi Presiden, kebijakan kami tetap sama saja,” tegasnya.

Rofiqi Hasan - Tempo News Room

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

16 Ribu Personel Polda Amankan Kampanye
Mega-Hasyim Paparkan Program Ekonomi
Presiden: Beritahu Latar Belakang Capres dan Cawapres
Massa Parpol Minta KPU Palembang Dibubarkan
Amien Rais dan Yudhoyono Lakukan Dialog Terbuka
Hasyim: Kampanye Menyerang Pribadi Melanggar UU dan Etika
Wiranto: Semua Pemimpin Indonesia Gagal Wujudkan Cita-Cita Bangsa
Warga NU Bebas Pilih Calon Presiden dari NU
Kafe Wiranto Dibuka di Muara Angke
Solahuddin Wahid Minta Restu Kyai Sepuh Jember
> selengkapnya...


Referensi

Jadwal Pemilu 2004 untuk Presiden dan Wakil Presiden
Jadual Pemilu 2004 untuk DPD, DPR dan DPRD
Pasangan Calon Presiden-Wakil Presiden
Jadwal Kampanye Pemilu Presiden
Apa Kata Wiranto
Keputusan KPU tentang Kampanye Pemilu Presiden dan Wakil Presiden
PP RI No. 9 Tahun 2004 Tentang Kampanye Pemilihan Umum Oleh Pejabat Negara
Kepres RI No. 25 Thn.2003 Tentang Pendataan Penduduk Bekas Propinsi Timor Timur
> selengkapnya...

Website

Mahkamah Konstitusi
Situs Hamzah Haz
Situs Wiranto
Situs PKS di Belanda
Situs PKS di Jepang
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< May,2004>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data