|
Nasional
Presiden Hadiri Hari Kebangkitan Nasional
Senin, 24 Mei 2004 | 12:59 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Presiden Megawati Soekarno Putri mengatakan, dalam memperingati Hari kebangkitan Nasional, masalah terberat yang dialami Indonesia adalah soal kemajemukan.
Menurut Presiden, itu terlihat bukan hanya di permukaan, tetapi juga meresap ke dalam berbagai hal mendasar."Seperti wawasan mengenai hidup dan kehidupan, adil dan tidak adil, hubungan antara agama dan negara, atau hubungan antarsuku", kata Presiden dalam sambutannya pada acara Hari Kebangkitan Nasional ke-96 di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Senin (24/5).
Presiden melanjutkan, selama ini sering terjadi kekeliruan dalam penanganan kemajemukan tersebut. Menurutnya, penanganannnya tidak seiring dengan kemajemukan itu sendiri, yakni mengakomodasi keragaman dan mengelola perbedaan secara desentralisasi. "Selama ini kita mengelola negara kesatuan melalui sistem pemerintahan yang terlalu sentralistik", katanya.
Akibatnya, Indonesia berpengalaman dalam berbagai konflik vertikal dan konflik horisontal. Sebagian besar konflik itu bersifat damai, lanjutnya, tetapi tidak jarang berlangsung dalam bentuk pemberontakan bersenjata.
Dia mengatakan, apapun alasannya, konflik itu akan merugikan kepentingan dan mendatangkan penderitaaan bagi bangsa. Sumber daya yang serba terbatas dan mestinya bisa didayagunakan untuk kepentingan rakyat, terpaksa harus dialokasikan demi keutuhan bangsa dan negara.
Oleh sebab itu, kata Presiden lagi, demi kepentingan rakyat banyak, sebaiknya harus dibangun sebuah konsensus nasional. "Bahwa konflik vertikal maupun horisontal sebaiknya diselesaikan melalui meja perundingan, dilangsungkan dengan jujur, dan ditindaklanjuti dengan konsisten, "ujarnya.
Acara peringatan Hari Kebangkinan Nasional itu dihadiri oleh sejumlah menteri antara lain, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda, Menteri Komunikasi dan Informasi Syamsul Muarif, Menteri Perindustrian dan Perdagangam Rini Suwandi, Panglima TNI Jenderal Endriarto Sutarto, Kapolri Jenderal Da'i Bachtiar, dan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso.
Acara itu juga ditandai dengan penandatanganan sampul hari pertama, perangko Hari Kebangkitan Nasional dan pagelaran budaya yang diikuti oleh sejumlah artis, penari, dan personel Akademi Fantasi Indosiar angkatan pertama.
Deddy Sinaga – Tempo News Room
INDEKS BERITA LAINNYA :
|