|
Nasional
Amien: Enam Tahun Reformasi Belum Tuntas
Jum'at, 21 Mei 2004 | 15:49 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta: Calon Presiden dari Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais mengatakan, enam tahun perjalanan reformasi masih menuai banyak pekerjaan rumah. "Walau hasil reformasi sudah bisa dinikmati seperti di bidang politik, bidang lainnya, seperti ekonomi dan hukum belum berjalan baik," kata Amien di Jakarta, Jumat (21/5).
Menurut Amien, reformasi politik yang sudah dapat dinikmati adalah keterbukaan dan kebebasan berpolitik. "Sampai ada ratusan partai politik dan implementasi otonomi di daerah juga sangat baik berkat reformasi," kata Amien. Selain itu, proses reformasi juga menghapuskan dwifungsi ABRI. "Mulai tahun ini, tidak ada lagi wakil TNI-Polri yang mendapatkan kursi secara gratis di DPR. Sebelum reformasi, 20 persen kursi diberikan kepada TNI-Polri," kata Amien lagi. Amien juga mengatakan, berkat amandemen konstitusi yang sudah dihasilkan proses reformasi, rakyat Indonesia bisa memilih pemimpinnya secara langsung, baik Presiden, Gubernur atau Bupati.
Hanya saja, kata Amien, reformasi di bidang ekonomi masih kacau balau: pengangguran merajalela, masih banyak rakyat kelaparan dan masalah pendidikan yang makin hari makin mahal. Hukum juga tidak berpihak kepada rakyat kecil. Penegakan hukum, kata Amien, masih berpihak kepada orang yang memiliki uang dan kekuasaan. "Wong cilik masih jadi kuda tunggang para elit politik<' kata Amien.
Untuk itu Amien berjanji, bersama Siswono dan kabinetnya akan mendorong pelurusan proses reformasi yang diakuinya masih gagap itu. Aksi pertamanya adalah dengan membuat Undang-Udang tentang Guru. Alasannya, nasib guru kurang diperdulikan. Di bidang ekonomi, kabinetnya akan berjuang untuk produk Undang-Undang yang mendukung para petani. Di bidang penegakan hukum, dirinya bahkan berjanji, pemeritah nantinya tidak takut lagi pada koruptor.
"Kebebasan pers juga akan diberikan seluas-luasnya," kata Amien. Menurut Amien, kebebasan pers justru akan menguntungkan pemeritah. Pemerintah yang tidak pernah dikoreksi pers karena kearogansiannya, ibarat orang sakit lantas meninggal karena tidak pernah diobati atau dikoreksi kesalahannya.
Istiqomatul Hayati - Tempo News Room
INDEKS BERITA LAINNYA :
|