Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Yudhoyono dan Wiranto Diprediksi Lolos ke Putaran Kedua
Selasa, 11 Mei 2004 | 20:03 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Pasangan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla dan Wiranto-Salahuddin Wahid diprediksi akan lolos ke babak kedua dan bersaing ketat memperebutkan kursi presiden dan wakil presiden RI. "Ini akan jadi perang bintang. Keduanya memiliki kelebihan dan kelemahan yang nyaris sama. Dan lagi, kalau membandingkan riwayat pendidikan mereka, ternyata keduanya berasal dari satu perguruan yang sama," kata Direktur Eksekutif Lembaga Survei Indonesia, Denny J.A saat merilis hasil jajak pendapat terbaru lembaganya dalam konferensi pers di Hotel Sari Pan Pasifik, Jakarta, Selasa (11/5) sore.

Meski begitu, Denny menambahkan, perseteruan final SBY --demikian Yudhoyono biasa disapa-- dan Wiranto di babak kedua pemilihan presiden, menurut Denny, hanya akan terjadi dengan tiga asumsi. Pertama, Wiranto mampu memobilisir kapabilitas jaringannya, seperti yang dia lakukan ketika mengalahkan Akbar Tandjung dalam konvensi Partai Golkar, April silam. Asumsi berikutnya adalah Megawati dan Amien Rais gagal menaikkan jumlah dukungan pemilih mereka masing-masing sampai awal Juli mendatang. "Sampai April, ada peningkatan jumlah responden yang menolak Megawati, dari 69 persen sebulan sebelumnya, menjadi 74, 8 persen," kata Denny.

Jika kecenderungan ini terus terjadi, kata dia, besar kemungkinan Mega tersingkir di putaran pertama. Terakhir, adalah menonjolnya kebutuhan akan rasa aman dan kepemimpinan yang kuat sebagai faktor yang mempengaruhi pilihan rakyat dalam pemilihan presiden. "Figur Wiranto mengalahkan Megawati dalam citra kepemimpinan yang kuat," kata doktor politik lulusan Universitas Ohio, Amerikat Serikat ini.

Meski demikian, peneliti LSI lainnya, Saiful Mudjani, menilai kerinduan pemilih pada kepemimpinan yang kuat tidak bisa serta merta diindikasikan calon presiden berlatar belakang militer memiliki peluang lebih besar dari calon presiden sipil. "Dalam survei, kami juga menanyakan apakah responden setuju jika dipimpin presiden dari perwira militer aktif. Ternyata mayoritas menolak," katanya. Mereka yang setuju hanya sekitar 34 persen. "Mereka yang setuju calon presiden militer cenderung mengasosiasikan pilihannya pada Wiranto," kata Saiful lagi.

Selain skenario SBY vs Wiranto di babak kedua, LSI juga mengeluarkan dua prediksi skenario pemilihan presiden lain dengan asumsi berbeda, yakni SBY vs Mega di babak kedua dan SBY memenangkan pemilihan dalam satu putaran. "Skenario ketiga yang probabilitasnya paling kecil," kata Denny sambil tertawa. Sementara skenario kedua berdasarkan asumsi tidak ada perubahan peta dukungan secara signifikan diantara keenam pasang calon presiden. "Dari beberapa survei kami, SBY dan Mega selalu ada di posisi nomor satu dan dua," kata Denny.

Selain itu, jika tim "Mega Presiden" mampu kembali menguasai televisi dengan iklan kampanye yang jitu mengubah persepsi masyarakat, Denny yakin peluang Ketua Umum PDI Perjuangan ini masih bersinar. "Pada pemilu legislatif, iklan moncong putih berhasil mendongkrak suara PDI Perjuangan sampai 5, 7 persen. Apalagi 82, 6 persen responden mengaku terpengaruh oleh iklan partai di televisi, bukan radio atau suratkabar," katanya lagi.

Jajak pendapat LSI terakhir ini dilakukan 9-15 April lalu di seluruh provinsi di Indonesia dengan jumlah responden 1216 orang, yang dipilih dengan metode multistage random sampling. "Karakteristik populasi responden sama dengan konfigurasi agama, jenis kelamin, tingkat pendidikan, umur, suku, dan tingkat pendapatan masyarakat Indonesia sesuai data Badan Pusat Statistik," kata Denny.

Meski diakui dilakukan dengan metodologi yang ketat, peneliti senior Australian National University, Harold Crouch, yang juga berbicara pada konferensi pers itu, menilai ada beberapa aspek yang belum tersentuh hasil polling LSI. "Belum ada data bagaimana peluang Wiranto jika bergandengan dengan Salahuddin Wahid? Atau SBY dengan Jusuf Kalla, juga calon wakil presiden lainnya," kata Crouch.

Pengamat politik Indonesia ini juga mempertanyakan sejauh mana faktor personality SBY mampu memenangkan pemilihan presiden, jika tidak didukung mesin politik yang kuat. "Di pemilu parlemen, Partai Demokrat hanya memperoleh 7 persen, jauh di bawah Golkar," katanya. "Mungkin responden jajak pendapat saat ini mengaku akan memilih SBY, tapi apakah SBY memiliki mesin politik untuk memastikan pendukungnya datang ke bilik suara dan mencoblos gambar dirinya?" tambah Crouch dengan nada bertanya.

Wahyu Dhyatmika - Tempo News Room

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Kadin Undang Jusuf Kalla Paparkan Visi Ekonomi
Muzadi Yakin Pencalonannya Sesuai Khitah NU
Gus Dur Temui Bagir Manan Di MA
Tidak Ada Konsensus Kabinet Hamzah-Agum
Kelompok Pendukung Amien Rais di Banyumas
PAN Daftarkan Amien-Siswono
Agum Siap Mundur Dari Kabinet
Megawati Batal ke Australia
Wiranto Sinyalir Ada Pembunuhan Karakter
Mega dan Hasyim Diperiksa 65 Orang Dokter
> selengkapnya...


Referensi

Jadwal Pemilu 2004 untuk Presiden dan Wakil Presiden
NU Versus NU
Electoral Threshold
Profil Hasyim Muzadi
PP RI No. 9 Tahun 2004 Tentang Kampanye Pemilihan Umum Oleh Pejabat Negara
UU RI nomor 31 Tahun 2002 Tentang Partai Politik
Keputusan KPU No. 07 Tahun 2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Kampanye Pemilu 2004
> selengkapnya...

Website

Partai Demokrat
Info Pemilu
Anti-Politisi Busuk
Politisi Busuk
Partai Keadilan
> selengkapnya...


Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [9]


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< May,2004>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data