Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Pendidikan

Partai Politikpun Gagap Bicara Soal Pendidikan
Kamis, 06 Mei 2004 | 16:56 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Tidak ada satupun partai politik (parpol) yang memiliki visi, apalagi komitmen terhadap pendidikan. Demikian disampaikan pengamat pendidikan, HAR Tilaar usai diskusi "Komitmen Parpol Terhadap Pendidkan", di Jakarta, Kamis (6/5). "Jika partai politik punya komitmen terhadap pendidikan, seharusnya anggaran 20 persen seperti diamanatkan UU 20/2003 tentang Sisdiknas dilaksanakan mulai sekarang, jangan tunggu sampai 2009," kata Tilaar.

Tentu saja ini menanggapi paparan Ketua Panitia Anggaran Komisi VI DPR dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Muhamad Sambas yang mengatakan, PDIP akan memenuhi 20 persen anggaran untuk pendidikan pada 2009. Karena jika dilaksanakan sekarang, bidang-bidang lain akan terbengkalai. "Komisi VI sepakat, mulai 2005 anggaran pendidikan akan meningkat lima persen per tahun secara bertahap sampai mencapai 20 persen dari APBN pada 2009. Tapi, rencana itu masih belum disepakati pemerintah," kata Sambas.

Lain lagi kata perwakilan dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Marzuki Usman yang mengusulkan agar pemerintah menjual seluruh sekolah negeri dari jenjang dasar sampai perguruan tinggi kepada para pendidik. Usulan kontroversial ini diutarakannya karena dirinya melihat, saat ini pengelolaan sekolah menjadi rebutan banyak pihak. "Agar tidak direcoki banyak orang, sebaiknya sekolah-sekolah diserahkan kepada para guru," katanya.

Sementara itu, wakil dari Partai Amanat Nasional (PAN), Didik J Rachmini menegaskan, PAN mendukung wajib belajar yang saat ini dilaksanakan pemerintah. "Semua pengelola pendidikan agar membebaskan diri dari ideologisasi dan agamaisasi para peserta didik. Yang penting, pendidikan harus dapat mengembangkan potensi anak didik dan generasi masa depan," katanya.

Ketidak-jelasan visi parpol terhadap pendidikan itu juga dinilai tampak dari ketidak-pedulian parpol terhadap masalah kesejahteraan para guru, sebagai motor pendidikan. "Partai politik seharusnya mulai memprioritaskan kesejahteraan para guru: dengan gaji profesional, para guru berkualitas dapat tumbuh. Jika perlu, pemerintah mengadakan lagi ikatan dinas untuk merekrut tenaga-tenaga guru," kata Ketua Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia, Soedijarto.

Tapi lagi-lagi, anggaran selalu menjadi kambing hitam. Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda, Fasli Djalal, pemerintah membutuhkan sekitar Rp. 180 triliun untuk melaksanakan program wajib belajar. Uang itu bisa mengantarkan 39,5 juta anak usia sekolah sampai jenjang Sekolah Menengah Pertama. "Sampai sekarang, pemerintah tidak punya anggaran sebanyak itu," kata Fasli.

Sita Planasari A - Tempo News Room

INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Megawati: Pandangan Tentang Pendidikan Murah dan Gratis, Menyesatkan
Komisi VI Tolak Pelaksanaan UAN 2005
Belasan LSM Tuntut Pendidikan Murah
Besok, Guru eks SMP 56 Melawai Diperiksa
Rp 10 Triliun untuk Rehabilitasi Gedung Sekolah
Pemda DKI Jakarta Laporkan Nurlaila ke Polisi
Ketika Gedung Sekolah Nyaris Roboh
SMP 56 Didatangi Petugas Trantib
20 Siswa Terkubur Sekolah Ambruk
Mahasiswa Jambi Tuntut Kapolri Mundur
> selengkapnya...


Referensi

PP RI No. 6 Tahun 2004 Tentang Penetapan Universitas Pendidikan Indonesia Sebagai Badan Hukum Milik Negara
Kepres RI No. 22 Thn.2003 Tentang Pendirian Sekolah Tinggi Sandi Negara

Komentar Anda
-
Kirim
-
Baca [2]


Berita Terakhir

Berkurang, Kereta Tambahan Lebaran
Gilbert Arenas Terancam Absen Awal Musim
Kamera Kompak Rasa SLR
Muchdi Tiba, Keamanan Lengang
Buka Puasa ala Bos First Media dan Iqbal

<< May,2004>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data