|
Nasional
Magnum Indonesia Bukan Lotere
17 Pebruari 2004
TEMPO Interaktif, Jakarta: PT Metropolitan Magnum Indonesia (MMI) berdiri sendiri dan tidak terkait dengan PT Magnum Coorperation Berhad (MCB) yang ada di Malaysia. Menurut Wakil Direktur Utama MMI Andi Baso, ketika memberikan penjelasan kepada komisi VI DPR, keterkaitan dengan MCB Malaysia hanya sebagai operator manajemen. Disamping itu, MMI mengadopsi sistem infrastruktur MCB, sebagai operator terbaik di Malaysia setelah 34 tahun beroperasi.
“Kami tidak identik dengan MCB karena MCB memang lotere,” kata Andi Baso di Gedung MPR/DPR Jakarta, Selasa (17/2) pagi. Dalam penjelasannya, sistem undian yang diselenggarakan MMI bekerja sama dengan Komite Olah Raga Nasional Indonesia (KONI) ini, merupakan undian gratis, ajang mempromosikan pertandingan olahraga. Bentuk undiannya sama sekali beda dengan Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB) maupun porkas yang memang murni lotere, karena peserta membeli kupon. Kupon inilah yang kemudian dijadikan bahan tebakan.
Perbedaan lainnya, kata Andi, dalam undian MMI penonton benar-benar aktif menonton pertandingan. Ketika menonton itulah tiket menonton pertandingan yang dibeli di loket-loket secara online memiliki nomor untuk pengundian doorprize. “Ini hanya daya tarik agar masyarakat senang menonton pertandingan dengan membeli tiket yang dapat doorprize,” kata dia.
Andi menekankan, dalam undian gratis ini, tidak ada unsur untung-untungan karena peserta undian benar-benar menonton pertandingan. Nomor doorprize yang ada di tiket pertandingan itupun diberikan serta merta dan penonton tidak memiliki pilihan untuk memilih nomor doorprize.
Ia mengatakan, hal yang melatarbelakangi undian gratis MMI dengan KONI ini, adalah sinergi antara kepedulian terhadap nasib prestasi olah raga Indonesia dengan peluang usaha. Pengaturan loket yang dibuat semacam outlet online ini dimaksudkan agar bisa diakses pengawasannya oleh Departemen Sosial dan KONI. “Jadi tidak bisa dicalo,” ujar Andi menambahkan.
Hasil perolehan undian gratis dari pembelian tiket menonton pertandingan itu akan dibagi masing-masing 50 persen antara KONI dengan MMI. Tapi sebelumnya, perolehan dana pertandingan itu akan dikurangi 40 persen untuk hadiah kepada penonton yang diakuinya didapat dari sponsor. “Inikan nggak bisa dihindari sebagai ajang promosi,” katanya berdalih. Biaya lainnya berupa 36 persen untuk biaya penyelenggaraan pertandingan, 10 persen biaya promosi dan 10 persen untuk usaha kesejahteraan sosial berdasarkan SK Menteri Sosial.
Menurut Baso, sampai kini MMI dan KONI belum terpikirkan gambaran kokret proyeksi undian itu. “Kami masih cari bentuk olahraga apa dan tempatnya di mana,” ujarnya. Meski demikian MMI berasumsi undian ini bisa diterapkan untuk semua peristiwa pertandingan olahraga. Tapi untuk tahap awal, pihak penyelenggara akan memilih beberapa cabang olah raga saja.
Masih menurut Baso, asumsinya, dari 150 ribu penonton yang mengikuti pertandingan, ada 20 ribu yang ikut undian, karena tidak semua penonton mendapatkan nomor doorprize. “Kira-kira kami dapat pendapatan Rp 3 miliar perminggu dan dapat tambahan Rp 2 miliar dari sponsor. Sehingga alokasinya nanti RP 5 miliar kami dapatkan perminggu dipotong biaya-biaya presentase itu,” kata dia.
Diakhir penjelasannya, ia menekankan dari undian ini keuntungan bagi pemerintah sendiri adalah bisa mendapatkan pajak dari tiket pertandingan dan 10 persen dari UKS.
Istiqomatul Hayati - Tempo News Room
|