|
Nasional
Ketua PBNU: Kunjungan Presiden Murni Silaturahim
14 Pebruari 2004
TEMPO Interaktif, Malang:Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi memastikan kedatangan Presiden Megawati Soekarnoputri di Pondok Pesantren Al-Hikam Kota Malang, Sabtu (14/2) siang, murni kunjungan silaturahim belaka.
Ia mengemukakan tidak adanya deal maupun komitmen
politik apapun antara dirinya dengan Megawati, terlebih yang menyangkut soal lamaran DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) pada dirinya agar bersedia menjadi calon wakil presiden.
Hasyim mengibaratkan pertemuan ia dengan Megawati bagai pertemuan dua orang teman yang sudah lama tak bersua. Ia mengaku sudah menjalin hubungan dengan Megawati semenjak dia belum menjadi presiden. Bahkan, ucap Hasyim, Megawati sudah empat kali merencanakan mengunjungi Al-Hikam, sementara tiga pertemuan antara keduanya terjadi sebelumnya.
Hasyim dan Megawati pernah bertemu sekali ketika Megawati belum menjadi wakil presiden di Blitar. Mereka kembali bertemu dua kali setelah Megawati menjadi wakil
presiden.
"Yang pertemuan keempat, ya, hari ini, setelah beliau
menjadi presiden. Jadi enggak ada yang luar biasa dong kalau dua teman lama bertemu. Untuk sekian kalinya
saya katakan ini pertemuan silaturahim biasa. Tidak ada yang luar biasa jika seorang presiden menyapa rakyatnya," kata Hasyim kepada wartawan.
Begitupun, ia tak kuasa menyangkal jika akhirnya pertemuan itu memunculkan kesan sekaligus spekulasi
politik yang pekat lantaran dilakukan saat menjelang
pelaksanaan Pemilihan Umum 2004. Apalagi Megawati juga
bertemu dengan para ulama senior NU.
Terkait hal ini, sekali lagi Hasyim menegaskan bahwa Megawati bertemu dengan para ulama bukan untuk melamar dirinya sebagai calon wakil presiden. Penegasan serupa pernah ia sampaikan seusai menerima kunjungan Taufiq Kiemas, suami Megawati, di Al-Hikam, Rabu, 26 November 2003.
Megawati tiba di lokasi Al-Hikam pukul 10.45 WIB. Ikut
dalam rombongan Megawati antara lain Menteri Agama Said Agil Husin Al-Munawar, Menteri Pendidikan Nasional Malik Fadjar, Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah Soenarno, Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Soetjipto, Wakil Sekjen DPP PDIP Pramono Anung, Sekretaris Militer Kepresidenan Letnan Jenderal TNI Tubagus Hasanuddin, Gubernur Jawa Timur Imam Utomo, Menteri Riset dan Teknologi merangkap Sekretaris Jenderal Partai Amanat Nasional Muhammad Hatta Radjasa.
Disambut tuan rumah, Megawati langsung diajak masuk ke
kediaman tuan rumah. Di dalamnya sudah menunggu sejumlah ulama kondang NU, seperti KH Suadi (Malang), KH Abdul Muchit Muzadi (Jember), KH Chotib Umar (Jember) KH Idris Marzuki (Kediri), KH Ahmad Subadar (Pasuruan), KH A. Baidlowi (Pasuruan), KH Raden Achmad Fawaid As'ad (Situbondo), KH Cholil As'ad (Situbondo), KH Dimyathi Romly (Jombang), KH Yusuf Hasyim (Jombang), KH Masduqi Mahfudh (Malang), dan KH Hasan Mutawakkil Alallah (Probolinggo).
Tampak pula Rozy Munir, Achmad Bagjan (Ketua PBNU), Ali Maschan Moesa (Ketua DPW NU Jawa Timur).
Berdasarkan daftar undangan yang diterima Tempo News
Room, acara kunjungan silaturahim Megawati dihadiri sekitar 170 alim ulama, belasan pimpinan daerah, sejumlah pimpinan perguruan tinggi, dan petinggi partai politik di Malang Raya (Kabupaten Malang, Kota Malang, dan Kota Batu).
Pertemuan itu berlangsung tertutup. Pukul 11.20 WIB,
para ulama keluar. Sedangkan Hasyim Muzadi dan Megawati meneruskan perbincangan hingga pukul 11.35 WIB.
Hasyim menuturkan lagi, fokus pertemuan antara ulama
dengan Megawati adalah membicarakan sejumlah masalah
paling krusial dalam kerangka untuk meningkatkan kerja
sama dalam pembangunan bangsa tanpa mengabaikan keberadaan rakyat kecil.
Ada tiga hal pokok yang dibicarakan dengan Megawati.
Pertama, alim ulama sepakat menyukseskan Pemilihan Umum 2004. Sekalipun persiapan pelaksanaan pemilu serba kekurangan, tapi pemilu jangan sampai gagal dilaksanakan jika Indonesia tidak ingin semakin terjerembab. Ini sangat tergantung oleh kualitas partai yang ada.
Kedua, bahwa NU dan PDIP sama-sama mempunyai masyarakat yang kebanyakan masih lemah ekonomi dan tidak terdidik sehingga diperlukan gerakan menyapa dan memperjuangkan nasib rakyat kecil secara konsisten.
Ketiga, NU tidak akan membicarakan politik dan atau ikut politik praktis agar NU tidak terjebak dalam kepentingan partai politik mana pun.
"Dari pertemuan ini kita berharap umara semakin peduli
terhadap rakyatnya tidak saja saat menjelang pemilu.
Jangan sampai rakyat di-openin ketika mau pemilu saja. Istilahnya, para pembesar itu harus lebih rajin
menyapa rakyatnya setiap saat.
Untuk itu, kata Hasyim, NU siap menjadi 'kaki bagi gerakan menyapa rakyat ini. Dari sini NU ingin membuktikan bisa menjadi perekat bangsa sehingga yang dilihat tidak hanya pemilu atau partai politik, melainkan melihat keutuhan bangsa secara keseluruhan.
Kalaupun NU membicarakan pemilu, kata Hasyim, NU membicarakannya dalam kerangka penyelamatan agama dan
Indonesia. "Jadi NU tidak berpikir semata-mata menempati posisi presiden, wakil presiden, dan badan-badan legislatif, tapi bagaimana produk pemilu mampu menyelamatkan Indonesia," kata Hasyim.
Sedangkan Megawati, dalam sambutannya selama 25 menit,
juga mengaku kunjungannya ke Al-Hikam lebih bersifat
kunjungan silaturahim. Ia menceritakan pengalamannya
waktu pertama kali bertemu Hasyim Muzadi.
"Pertama kali ketemu Pak Hasyim, saya deg-degan karena yang mau datang Ketua Umum PBNU. Sebelumnya saya bertemu dengan Ketua PBNU yang lain," kata Megawati yang disambut
gelak hadirin.
Selebihnya Megawati mengutarakan upaya pemerintah
untuk menyukseskan pemilihan umum. Juga dia mengisahkan posisi dirinya yang dilematis terhadap amandemen Undang-Undang Dasar 1945 tapi sekaligus mengherankan "kecerewetan" pihak-pihak yang merasa
tidak puas dengan hasil amandemen itu.
Megawati juga sangat optimis pelaksanaan Pemilihan Umum 2004 sukses, sekalipun dilangsungkan dalam serba kekurangan. "Terhadap pelaksanaan pemilu nanti kita jangan sampai ogek (ragu) melaksanakannya walau masih dalam serba kekurangan. Dan pemilu jangan ditunda
karena sudah menjadi amanat konstitusi," katanya.
Megawati meninggalkan lokasi acara pukul 12.30 WIB.
Sehabis dari Al-Hikam, Megawati langsung menuju Kelurahan Buring, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang, untuk melakukan peletakkan batu pertama menandai pembangunan Gedung Olahraga Ken Arok. Menurut rencana, dari Malang Megawati dan rombongan langsung
ke Blitar.
Abdi Purmono - Tempo News Room
|