|
Ekonomi Bisnis
Pembangkit Listrik Suralaya Masih Kesulitan Batubara
09 Pebruari 2004
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pembangkit Listrik Suralaya, Jawa Barat, masih kesulitan mendapatkan batubara, menyusul tersendatnya pasokan dari Tanjung Enim, Sumatera Selatan, akibat gangguan transportasi. Upaya mencari batubara dari daerah lain terbentur oleh biaya angkutan, dan harga yang terus melambung.
Direktur Pengembangan dan Pengusahaan Batubara, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, Mahyudin Lubis, di Jakarta, mengatakan sebenarnya ada tiga produsen batubara telah bersedia memenuhi kebutuhan Suralaya, menggantikan PT Bukit Asam. Ketiga perusahaan itu adalah Kideco, Adaro, dan Berau. Mereka bersedia mensuplai sekitar 300 ribu ton untuk pembangkit listrik milik Indonesia Power, anak perusahaan PT PLN (Persero).
Sejauh ini, negosiasi yang difasilitasi pemerintah baru menyangkut volume pasokan, belum ke masalah harga. "Masalah harga dirundingkan langsung antarperusahaan," kata dia. Pemerintah, lanjut Mahyudin, terus mendorong mereka untuk merundingkan harga. Ia berharap masalah itu bisa segera diselesaikan.
Mahyudin menjelaskan, harga batubara saat ini memang sedang tinggi. Hal itu dikarenakan permintaan batubara di pasar dunia meningkat di musim dingin ini. Di Indonesia, kenaikan harga juga dikarenakan naiknya biaya angkutan. Jalanan yang rusak akibat hujan yang turun terus-menerus, mengakibatkan terganggunya sistem transportasi.
Pemerintah berharap, bulan Maret sudah bisa diperoleh tambahan batubara untuk Suralaya. "Kita coba mencari, bagaimana pun, agar jangan sampai terjadi kekurangan stok," katanya.
Gangguan pasokan batubara ke Suralaya terjadi sejak pertengahan Desember 2003 lalu, karena kereta api pengangkut batubara anjlok. Semula diperkirakan gangguan pasokan hanya dua minggu, tetapi sampai sekarang belum normal.
Sebelumnya, Dirut PT Indonesia Power, Firdaus Amal mengatakan cadangan batubara Suralaya sudah pada tahap kritis. Indonesia Power hanya memiliki cadangan hingga awal Februari. Dikhawatirkan pasokan listrik akan terganggu bila tidak ada tambahan pasokan. Pembangkit Suralaya berkapasitas 3400 megawatt untuk mensuplai kebutuhan listrik Jabotabek. Bila pasokan terus terganggu alternatif yang kemungkinan bisa dilakukan Indonesia Power adalah menurunkan beban, tetapi tidak mematikan secara keseluruhan.
Pasokan batubara dari Tanjung Enim, milik PT Bukit Asam, ke Suralaya mencapai 60 persen dari kebutuhan, atau sekitar 600 ribu ton per bulan. Saat ini pembangkit Suralaya baru memperoleh pasokan sebesar 200 ribu ton per bulan.
Retno Sulistyowati - Tempo News Room
|