|
Nasional
Presiden Ragukan Angka Statistik
09 Pebruari 2004
TEMPO Interaktif, Jakarta:Presiden Megawati Sukarnoputri mengatakan angka statistik seringkali cenderung tidak menggambarkan realitas yang sesungguhnya. Akibatnya antara realisasi dan realitas di lapangan menjadi tidak tergambarkan dan tidak jelas.
"Kita jangan terlalu percaya pada angka statistik karena itu sebetulnya suatu penyakit. Kita sendiri akhirnya senang membaca di atas kertas suatu jumlah, tapi kalau ada pertambahan lalu dipaksakan turun," tutur Presiden dalam sambutannya saat membuka Rapat Kerja Keluarga Berencana Nasional 2004 di Istana Negara, Jakarta, senin (9/2).
Hadir dalam acara itu Menteri Dalam Negeri Hari Sabarno, Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Feisal Tamin, Menteri Kesehatan Achmad Sujudi, Menteri Negara Komunikasi dan Informasi Syamsul Muarif, dan Kepala Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Sumarjati Arjoso.
Presiden mengambil contoh tentang jumlah penduduk Indonesia. Dia mengaku agak curiga dengan angka statistik bahwa jumlah penduduk Indonesia kini ada di kisaran 200 juta orang lebih. Padahal, "Sejak 30 tahun lalu, angka 200 juta itu sudah ada sejak dulu," ujarnya.
Contoh lain, dia mempertanyakan keberlanjutan program Keluarga Berencana yang dimulai sejak zaman Orde Baru. "Saya lihat di daerah banyak ibu-ibu yang menggendong bayi, saya langsung berpikir, jalan nggak program KB?" kata dia dengan nada bertanya.
Akan tetapi, Presiden menilai wajar munculnya pertanyaan tentang keberlanjutan program KB itu. Itu menandakan betapa strategisnya masalah KB dalam konteks pembangunan kesejahteraan rakyat.
Jumlah penduduk yang mencapai 210 juta lebih dengan laju pertumbuhan penduduk 1,5 persen per tahun memberi makna bertambahnya lebih dari tiga juta penduduk setiap tahunnya.
Menurut Presiden, bukanlah pekerjaan sederhana untuk membangun dan meningkatkan kualitas manusia sebanyak itu. Penyediaan kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, pangan, papan, air bersih, dan lapangan pekerjaan menjadi beban yang berat. "Bilamana Keluarga Berencana dipahami sebagai program yang perlu dan penting, maka pengelolaannya harus menjadi perhatian kita semua," kata Presiden.
Pada kesempatan terpisah, Kepala BKKBN Sumarjati Arjoso mengatakan bahwa program Keluarga Berencana telah menghemat jumlah penduduk yang disebut demographic bonus, sebesar 47 juta jiwa antara tahun 1970 hingga 1990.
Berdasarkan Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahjun 2002-2003, kata Sumarjati, tingkat pemakaian alat kontrasepsi masih meningkat sebesar 60 persen lebih. Angka kelahiran telah diturunkan lebih dari 50 persen dari 5,6 anak pada tahun 1971 menjadi 2,6 anak pada 2002. Akibatnya laju pertumbuhan penduduk ditekan dari 2,3 persen lebih per tahun pada periode 1970 hingga 1980, menjadi 1,48 persen per tahun pada periode 1990 hingga 2000.
Rapat kerja nasional itu akan berlangsung selama tiga hari di kantor BKKBN. Menurut Sumarjati, pembicaranya antara lain Menko Perekonomian Dorodjatun Kuntjoro Jakti, tokoh agama, dari Badan Ketahanan Pangan, para gubernur dan bupati, di samping pakar dari BKKBN.
Deddy Sinaga - Tempo News Room
|