Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

Indonesia Jadi Importir Limbah B3
27 Januari 2004

TEMPO Interaktif, Jakarta: Indonesia menjadi salah satu negara importir limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Salah satu limbah B3 yang masih diimpor sampai 2002 adalah aki bekas. Dari aki bekas ini, para industri mengambil timah hitam, yang sifatnya kontaminan yang berbahaya dan beracun. Hal ini terungkap dalam seminar limbah B3 yang berlangsung Selasa (27/1) di Sepong, Jawa Barat.

Selain mengimpor aki bekas, sejak 1991 sampai 1992, Indonesia juga pernah mengimpor limbah plastik, yang didalamnya juga terkirim limbah B3 lainya seperti plasticizer dan sludge serta bekas kemasan B3. Limbah B3 lain yang masih berusaha di impor ke Indonesia adalah material keruk yang terkontaminasi logam berat seperti merkuri, Timah hitam dan minyak, dari Singapura.

Deputi VII Bidang Pembinaan Sarana Teknis Pengelolaan Lingkungan Hidup Kementrian Lingkungan Hidup Masnellyarti Hilman mengatakan, kementeriannya pernah mendapatkan kesulitan dan tekanan dalam upayanya menahan masuknya limbah material keruk dari Singapura.

Tahun 1998, eksportir Singapura menawari beberapa perusahaan di Indonesia untuk menerima limbah material keruk tersebut. Bahkan mereka mengiming-imingi uang US$ 4 per meter kubik. "Singapura tidak pernah putus asa untuk membuang material keruknya ke Indonesia," ujar Masnellyarti di depan peserta workshop yang juga dihadiri wakil dari kepolisian dan bea cukai. Inilah yang menurutnya menyebabkan para importir Indonesia berulang kali meminta kepada Bapedal agar perusahaan mereka dapat mengimpor limbah tersebut.

Masnellyarti menegaskan, dengan berlakunya sistem desentralisasi (otonomi daerah) bisa menjadi celah bagi para importir untuk mengimpor limbah B3. Alasannya, bisa macam-macam. Antara lain untuk meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) kabupaten tempat pemanfaatan limbah tersebut.

Dia juga mengatakan bahwa perdagangan limbah B3 tingkat bahayanya sama dengan perdagangan narkotika. Walaupun keuntungannya sangat besar, namun sangat berbahaya karena mengancam keselamatan jiwa manusia dan mahluk lainnya.

Sunariah ? Tempo News Room

Kirim Komentar   | Baca Komentar

 

 

dibuat oleh danendro : Radja
Berita Terkait

 
Berita nasional Lainnya

PKB Calonkan Sophan Sophian Sebagai Cawapres
(Rabu, 28/04/2004 | 00:33 WIB)
KPU Siapkan Tata Cara Debat Pemilu
(Rabu, 28/04/2004 | 19:29 WIB)
Amien Rais Masih Bungkam Soal Pasangannya
(Rabu, 28/04/2004 | 18:24 WIB)
Siswono Juga Mengaku Dilamar Wiranto
(Rabu, 28/04/2004 | 18:00 WIB)
KPU Tak Akan Umumkan Hasil Pemeriksaan Kesehatan Capres
(Rabu, 28/04/2004 | 17:17 WIB)
Hamzah: PDIP Terima Visi dan Misi PPP
(Rabu, 28/04/2004 | 16:22 WIB)
Wiranto Periksa Kesehatan
(Rabu, 28/04/2004 | 15:59 WIB)
Gus Dur: Saya Tidak Akan Gandeng Militer Jadi Cawapres
(Selasa, 27/04/2004 | 20:31 WIB)
SBY Mengajak NU Bergabung Dalam Pemerintahannya
(Selasa, 27/04/2004 | 19:53 WIB)
Cawapres PDIP Ditetapkan Tanggal 3 Mei
(Selasa, 27/04/2004 | 11:46 WIB)

Index Berita





 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data