|
Nasional
Pemerintah Bentuk Tim Anti-Flu Burung
25 Januari 2004
TEMPO Interaktif, Jakarta: Pemerintah dalam waktu dekat akan mengirimkan tim ke beberapa daerah guna menyelidiki kemungkinan penularan penyakit flu burung pada manusia. Hal itu ditegaskan Umar Fahmi, Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan, saat dihubungi kemarin di Jakarta.
Umar menyatakan, pembentukan tim tersebut dilakukan melalui Departemen Kesehatan dan akan mengambil contoh darah warga di kota yang dinilai rawan. "Mulai pekan depan, tim akan dikirim ke Jakarta, Surabaya, dan Kepulauan Riau," katanya. Dalam dugaan sementara, pemerintah tiga wilayah itu rawan penyebaran flu burung. Contoh darah yang diambil bakal diuji di Laboratorium Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Kesehatan. "Kalau ada warga yang tertular, virus akan tergambar dalam sampel darah tersebut," ujarnya.
Sebagai pendahuluan, pekan lalu pihaknya telah mengirimkan surat ke dinas kesehatan beberapa daerah guna mendeteksi dini ada tidaknya gejala penyebaran virus flu burung itu. "Hari ini pun telah kami kirimkan surat yang kedua kali," dia mengimbuhkan. Umar menegaskan, di Indonesia sejauh ini belum ada tanda-tanda penyebaran virus menular tersebut, termasuk pada manusia.
Sejauh ini memang belum dilaporkan adanya serangan virus flu burung di berbagai daerah. Di Pulau Bali memang dikabarkan terjadi serangan virus terhadap ayam petelur sejak November 2003. Namun, informasi yang beredar sumber serangan ini adalah virus Viscerotropic Velogenic Newcastle Disease Virus (VVND). ''Kami, para peternak, melakukan upaya sendiri-sendiri agar ayam-ayam kami tak terjangkiti,'' kata Wayan Sukadana, peternak ayam petelur di Desa Nyuh Tebel, Kecamatan Manggis, Kabupatan Karang Asem. Wayan Sukadana memiliki 100 ribu ekor ayam dan sejauh ini berhasil menangkal serangan virus itu.
M. Adenan, anggota Komisi B DPRD Bali, menerangkan, komisinya pernah memanggil drh. Alit Eka Putra, Kepala Dinas Peternakan Bali, untuk dimintai keterangan sehubungan dengan serangan virus itu. Dalam pertemuan itu, Alit Eka Putra membenarkan adanya serang virus. Dinas Peternakan Bali kemudian mengeluarkan surat edaran yang berisi larangan atau menyetop pengiriman antarpulau segala jenis ternak ke Bali.
Sementara itu dari Hanoi, Vietnam, dikabarkan korban flu burung terus bertambah dan kini sudah enam orang. Korban terakhir adalah seorang anak laki-laki berumur 13 tahun. Kepala Dinas Kesehatan Kota Ho Chi Minh, Nguyen The Dung, menyebutkan, anak tersebut meninggal, Kamis lalu, di Rumah Sakit Penyakit Tropis. Dua kakak perempuannya pun meninggal pada hari yang sama di RS Bach Mai, Hanoi, karena penyakit paru-paru akut. Keduanya positif terkena virus flu burung.
Seorang anak laki-laki penduduk Kota Ho Chi Minh yang tak diketahui namanya juga disebutkan menderita penyakit pernapasan dan segera dimasukkan ke rumah sakit khusus. "Tes menunjukkan ia memang terkenal virus H5N1 (penyebar flu burung)."
Selain itu, menurut Dung, seorang anak perempuan berusia 8 tahun terkapar di RS Penyakit Tropis dan positif terinfeksi virus H5N1. "Selain itu, kami belum menerima konfirmasi kasus baru," paparnya.
Dua kasus terakhir menunjukkan, virus H5N1 menyebar ke Vietnam bagian selatan. Korban yang meninggal sebelumnya sebanyak lima orang berasal dari wilayah utara. Hal ini menunjukkan penyebaran telah meluas. Sebelum menyerang manusia, di Vietnam selatan pun virus tersebut menginfeksi sejumlah ayam. Penambahan korban ini meningkatkan ketakutan akan berjatuhan korban di negara-negara Asia lainnya.
Di Thailand dilaporkan juga seseorang meninggal dan diduga akibat infeksi virus flu burung. Di negara itu sedikitnya ditemukan dua korban meninggal. Peningkatan itu membuat Thailand menjadi negara kedua tempat virus itu tidak hanya menyerang ayam, tapi juga manusia.
Sejumlah negara Asia sedang beraksi melawan penyebaran virus itu. Bahkan di enam negara, yakni Thailand, Vietnam, Kamboja, Korea Selatan, Jepang, dan Taiwan, jutaan ekor ayam dimusnahkan. Jumlah tertinggi di Thailand--sejak November 2003, 7 juta ekor sudah dibunuh.
Lima belas negara Uni Eropa dan Jepang, Jumat (23/1), menahan pengiriman ayam dari Thailand. Korea Selatan, Singapura, dan Taiwan juga termasuk negara yang melarang impor ayam dari Thailand. Sejumlah negara juga akan melakukan pembatasan impor, yang dipastikan akan mengurangi pendapatan peternak Thailand. Menurut Thai Broilers Processing Exporters Association, tahun lalu negeri itu mengirim sekitar 500 ribu ton ayam bernilai US$ 1,3 miliar.
Seiring dengan makin meluasnya penyebaran virus ini di Asia, pada Rabu depan akan diadakan pertemuan tingkat menteri untuk membahas pemecahan krisis flu burung di Asia. Sebagai tuan rumah, Thailand akan mengundang Kamboja, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Vietnam, juga negara pengimpor seperti AS, Uni Eropa, dan Singapura. "Para menteri yang bertugas mengawasi kesehatan umum, pertanian, dan urusan luar negeri akan diundang," kata kata juru bicara pemerintah Thailand, Jakropob Penkair, di Kanchanaburi kemarin.
danto/jalil hakim/rita/ap/afp
|