|
Nasional
Presiden akan Lantik 816 Perwira Lulusan Akademi TNI
17 Desember 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta: Presiden Megawati Sukarnoputri akan melantik 816 taruna menjadi perwira pertama di Istana Presiden, Jakarta, Jumat (19/12) dalam upacara yang disebut Prasetya Perwira. Presiden juga akan memberikan tanda penghargaan Adimakayasa kepada empat taruna lulusan terbaik akademi itu.
Mereka adalah Constantinus Rusmanto dari Akademi Militer (Akmil-Angkatan Darat), Anugerah Anurullah dari Akademi Angkatan Laut, Henry Prasetyo dari Akademi Angkatan Udara, dan Wirdhanto Hadicaksono dari Akademi Kepolisian.
Persiapan upacara pelantikan terhadap 295 taruna Akademi Militer, 147 taruna Akademi Angkatan Laut, 131 taruna Akademi Angkatan Udara, dan 243 taruna Akademi Kepolisian, itu telah dilakukan sejak Rabu (17/12) pagi.
Tampak hadir dalam gladi bersih upacara itu, Komandan Jenderal Akademi TNI Laksamana Muda (TNI) Wahyu Sasongko, Gubernur Akademi Militer Mayjend (TNI) Mahmud Yusuf Palar, Gubernur Akademi AL Laksamana Muda (TNI) Nono Sampurno, Gubernur Akademi AU Marsekal Muda (TNI) Marjono, dan Gubernur Akpol Inspektur Jenderal (Pol) Lebang.
Usai gladi bersih itu, kelima pejabat tinggi menggelar jumpa pers. Dalam kesempatan itu, Danjen Akademi TNI mengatakan upacara pelantikan tersebut adalah bagian dari kegiatan terintegrasi antara TNI dan Polri. Penyatuan acara pelantikan itu, kata dia, adalah permintaan Kepala Polri Jenderal Da'i Bachtiar melalui suratnya bernomor B381/I/ 2002 perihal keterlibatan taruna Akpol dalam kegiatan integral pada tahun 2003.
Seperti diketahui pemisahan antara TNI dan Polri sudah dilakukan pada tahun 2000. "Namun kegiatan integral itu berjalan terus, termasuk pada wacana kehidupan harian," kata Laksda Wahyu, seraya membantah bahwa penyatuan itu dilakukan mengingat kerapnya terjadi bentrok antara aparat polisi dan TNI di lapangan. Dia juga membantah penyatuan pelantikan itu adalah wacana menyatukan kembali kedua angkatan seperti masa lalu.
Dalam kesempatan itu juga terungkap bahwa tak seluruhnya taruna tingkat akhir yang lulus menjadi perwira. Gubernur Akpol, Irjen Lebang mengatakan pihaknya tak meluluskan satu taruna yang diberi kesempatan mengulang setahun lagi. Alasannya, sang taruna lemah di bidang akademik dan tidak disiplin. Kejadian serupa juga terjadi di Akademi Angkatan Laut.
Sedangkan di Akademi Militer ternyata ada satu taruna tingkat akhir yang dikeluarkan pada Agustus yang silam. Gubernur Mahmud Yusuf mengatakan sang taruna terlibat dalam perbuatan asusila yakni berhubungan seksual di luar nikah. "Perbuatan semacam itu tidak bisa ditolerir karena prinsipnya taruna dilarang berhubungan seks," kata dia tegas.
Pemecatan dan penundaan kelulusan itu, kata Danjen Akademi TNI, menandakan bahwa mereka yang diterima oleh Akademi TNI tak serta merta lulus dan dilantik menjadi perwira. Penyaringan terketat telah dilakukan sejak tingkat pertama hingga tingkat kedua, sehingga pada tingkat akhir didapatkan taruna yang dewasa. Meski begitu, pada tingkat akhir pun para taruna masih belum lolos dari penilaian.
Deddy Sinaga - Tempo News Room
|