|
Nasional
Nur Muhammad Iskandar Akan Bergabung Dengan Zainudin MZ
14 Desember 2003
TEMPO Interaktif, Jakarta: Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB), KH Nur Muhammad Iskandar mempertimbangkan secara serius ajakan bergabung dengan Partai Bintang Reformasi (PBR) pimpinan KH Zaainudin MZ. "Ada tantangan baru yang menarik, memulai perjuangan dari awal lagi seperti dulu saya di PKB. Lain dengan PKB yang sudah jelas pangsa pemilihnya, di PBR saya merasa tertantang," kata Gus Mad, panggilan akrab pengasuh Pondok Pesanren Ash Shidiqiyyah Jakarta, itu kepada TNR, Minggu (14/12).
Bersama PBR, Gus Mad juga merasa ada kecocokan platform, seperti partai berbasis islam moderat. "Platform ini menunjukkan, islam ditempatkan sebagai agama yang berkiprah guna membangun bangsa dan negara," katanya. Kepada Gus Mad, Zainudin MZ yang dijuluki dai sejuta umat, menawari posisi nomor satu calon legislatif di DPR untuk daerah pemilihan Jawa Timur. Bahkan, sejumlah kiai berpengaruh di Nahdlatul Ulama (NU) dan PKB juga dihubungi Zainudin MZ untuk turut serta membangun partai pecahan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini, seperti KH. Idris, KH. Khamid Marzuki dan lainnya.
Sudah setahun belakangan Gus Mad memilih untuk membatasi diri dari aktifitas politik dan tidak mencalonkan diri menjadi caleg PKB dalam Pemilu 2004. Satu-satunya alasannya adalah permintaan wali santri di sejumlah pondok pesantren asuhannya, agar berkonsentrasi mengurusi pondok. Tapi, kali ini Gus Mad seakan tersihir tawaran Zainudin MZ. Gus Mad juga membantah, kalau dirinya tidak dilirik PKB sebagai caleg. "Sama sekali tidak. Bahkan, hubungan saya dengan Ketua Dewan Syuro PKB, KH. Abdurahman Wahid sangat baik. Terakhir saya bersilaturahmi dengan Gus Dur usai lebaran lalu," katanya serius.
Sementara, rencana kepindahan Gus Mad ke PBR, ditanggapi dingin petinggi PKB. "Kami tidak keberatan sama sekali, wajar saja jika beliau diminta lalu menerima tawaran itu," kata Mahfudz MD, Wakil Ketua Umum DPP PKB. Menurutnya, kepindahan itu merupakan hak personal Gus Mad. "Tidak akan berpengaruh terhadap persiapan PKB menghadapi Pemilu 2004," kata mantan Menteri Pertahanan di era Presiden Abdurahman Wahid ini kepada TNR.
Kepindahan itu pula, kata Mahfudz, tidak akan banyak berpengaruh terhadap konstituen PKB yang mayoritas pemilihnya adalah warga nahdliyin. "Yang diikuti warga nahdliyin adalah keputusan mayoritas ulama, bukan personal. Hanya saja perekat dari kesepakatan jumhur ulama itu diikat oleh tokoh nomor satu di PKB, Gus Dur," katanya lagi.
Menurut Mahfudz, PKB belum membicarakan kemungkinan menjadikan Gus Mad sebagai caleg dan vote-gatter dalam Pemilu 2004. Apalagi, Gus Mad dirasa belum pernah aktif di DPP PKB, kecuali karena keanggotaan di DPR dari Fraksi Kebangkitan Bangsa.
Ecep S. Yasa - Tempo News Room
|