Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Internasional  
  Iptek  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Apa Itu RSS?
   

Nasional

KBRI di Singapura Bertemu Maria Pauline
11 Desember 2003

TEMPO Interaktif, Jakarta: Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Singapura kembali mengadakan pertemuan dengan tersangka utama kasus pembobolan Bank Negara Indonesia (BNI ཪ), Maria Pauline Lumowa yang akrab dipanggil Erry, Kamis (11/12). "Pertemuan itu atas keinginan Erry yang diatur pihak ketiga. Tempat dan waktunya yang kita sepakati bersama,"kata Chalief Akbar, Kepala Bidang Penerangan KBRI Singapura, kepada TNR lewat sambungan internasional, Kamis (11/12) sore.

Dalam pertemuan yang berlangsung selama sekitar satu jam itu, Duta Besar Indonesia untuk Singapura, Muhammad Slamet Hidayat meminta Maria segera pulang ke Indonesia untuk menyelesaikan masalah pembobolan kredit BNI dan menyampaikan jaminan keselamatan bagi dirinya setiba di Indonesia. "Saya membujuk dia pulang, karena itu satu-satunya jalan," kata Slamet Hidayat. Kepada Maria, Slamet menegaskan, satu-satunya jalan pemilik PT Sagared Pertiwi, perusahaan marmer terbesar di Asia Tenggara yang berlokasi di Kupang, itu harus menjelaskan dan menjalani proses hukum. Tapi, Maria yang juga pemilik PT Gramarindo Mega Indonesia, itu hanya menyatakan dirinya akan berkonsultasi dengan pengacaranya terlebih dahulu.

Sebenarnya, kata Slamet, pada Senin (8/12) Maria sudah mengemas barang-barangnya untuk segera pulang ke Indonesia. "Tapi ada telepon dan SMS yang bilang supaya jangan pulang," kata Slamet menirukan jawaban Maria. Anehnya, Maria tidak menyebutkan alasannya. Di sela-sela wajah yang tampak tertekan, Maria sesekali menangis.

Menurut Chalief, Maria belum memiliki pengacara. Tapi kemungkinannya, perempuan warga negara Belanda berdarah Manado itu akan memakai pengacara dari Belanda. Untuk itu, pihak KBRI tidak bisa memaksa dan memberikan batas waktu bagi Maria untuk pulang ke Indonesia. Apalagi, kata Slamet, pihak Interpol pun belum memberikan permintaan apa-apa sehubungan kasus BNI kepada pihak KBRI.

Faisal - Tempo News Room

Kirim Komentar   | Baca Komentar

 

 

dibuat oleh danendro : Radja
Berita Terkait

Pimpinan DPR Belum Terima Usul Pembentukan Pansus BNI
Polisi Berharap Dapatkan Banyak Informasi dari Dirut BNI
Dirut BNI Diperiksa Mabes Polri
Yoppie Widjaja Menjadi Tersangka Kasus Pembobolan BNI
Hari Ini Tak Ada Jadwal Rapat Bahas Pansus BNI

 
Berita nasional Lainnya

PKB Calonkan Sophan Sophian Sebagai Cawapres
(Rabu, 28/04/2004 | 00:33 WIB)
KPU Siapkan Tata Cara Debat Pemilu
(Rabu, 28/04/2004 | 19:29 WIB)
Amien Rais Masih Bungkam Soal Pasangannya
(Rabu, 28/04/2004 | 18:24 WIB)
Siswono Juga Mengaku Dilamar Wiranto
(Rabu, 28/04/2004 | 18:00 WIB)
KPU Tak Akan Umumkan Hasil Pemeriksaan Kesehatan Capres
(Rabu, 28/04/2004 | 17:17 WIB)
Hamzah: PDIP Terima Visi dan Misi PPP
(Rabu, 28/04/2004 | 16:22 WIB)
Wiranto Periksa Kesehatan
(Rabu, 28/04/2004 | 15:59 WIB)
Gus Dur: Saya Tidak Akan Gandeng Militer Jadi Cawapres
(Selasa, 27/04/2004 | 20:31 WIB)
SBY Mengajak NU Bergabung Dalam Pemerintahannya
(Selasa, 27/04/2004 | 19:53 WIB)
Cawapres PDIP Ditetapkan Tanggal 3 Mei
(Selasa, 27/04/2004 | 11:46 WIB)

Index Berita





 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data