|
Hak Keperdataan Dua Kelompok akan Dikembalikan
01 November 2003
TEMPO Interaktif, Palu: Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat Jusuf Kalla menyepakati dikembalikannya hak-hak keperdataan dua kelompok yang bertikai, Muslim dan Kristen, di Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah. Hal ini merupakan salah satu hasil dari pertemuan Kalla dengan dua kelompok yang bertikai.
Pertemuan berlangsung di ruang Torulemba, kediaman Bupati Poso, Muin Pusadan, Sabtu (1/11), sekitar satu jam. Selain itu, peserta pertemuan juga menyepakati agar penegakkan hukum dijalankan secara tegas. Sebab, mereka sepakat bahwa kelompok penyerang Poso pesisir dan Morowali pertengahan Oktober lalu adalah musuh bersama.
Kepada wartawan di Palu, Sabtu (1/11) malam, Kalla mengemukakan, hak keperdataan masyarakat Poso merupakan poin penting dalam memulihkan konflik yang bernuansa suku, agama, ras dan antargolongan di daerah ini. Karena itu ia meminta kepada tokoh-tokoh deklarator Malino yang berasal untuk menginventarisir jumlah
hak-hak keperdataan warga Poso dari dua komunitas. Misalnya kebun, sawah dan rumah-rumah warga yang
sampai saat ini belum ditempati atau dimiliki kembali.
Hak keperdataan masyarakat Poso tersebut misalnya warga Poso Kristiani belum bisa menempati rumahnya
dan kebunnya di Poso Kota, karena mereka masih takut hidup di sana. Begitu juga ribuan hektare kebun coklat warga Muslim di daerah Pamona Utara dan Kota Tentena. Warga Muslim Poso belum berani ke daerah tersebut karena belum ada jaminan keamanan.
Kapolri Jenderal Da,i Bachtiar, yang ikut bersama Kalla, akan menindaklanjuti permintaan masyarakat soal penegakan hukum tersebut. Kapolri berjanji akan mengusut tuntas kelompok penyerang Morowali dan Poso Pesisir, termasuk kemungkinan adanya pihak-pihak luar yang bermain di Poso.
Kalla juga berencana mengumpulkan seluruh pemuda Poso untuk menginventarisir keinginannnya. Sebab, dalam penyerangan ke Poso Pesisir dan Morowali bulan lalu, semua didominasi kaum muda. Kalla menambahkan, dalam tiap konflik, anak muda akan menjadi radikal dan orang tua menjadi fanatik. Kerana itu, mereka tak boleh dibiarkan lama-lama menganggur agar tak berfantasi untuk melakukan kerusuhan.
Darlis Muhamad - Tempo News Room
|