TEMPO Interaktif, Jakarta:Dari hasil penjualan Rp 1,9 trilyun, sekitar Rp 1,02 trilyun dipakai untuk membayar hutang.
Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT Astra Internasional Tbk memutuskan untuk melepas 46 persen saham mereka di PT Toyota-Astra Motor (TAM) kepada Toyota Motor Corporation dengan harga US$ 226 juta atau senilai Rp1,9 triliun (kurs Rp 8.500).
Presiden Direktur PT Astra Internasional Tbk. Budi Setiadharma mengatakan dana yang diperoleh, setelah pemotongan biaya pajak, akan digunakan untuk membayar utang. " Sekitar US$120 juta (Rp1,02 triliun) akan digunakan untuk membayar utang," kata Budi Setiadharma kepada wartawan usai rapat di Hotel Intercontinental, Jakarta Kamis (22/5).
Budi mengatakan dana pembayaran utang hasil divestasi saham ini diluar dana rutin pembayaran utang. Dengan penambahan alokasi dana pembayaran utang ini, kata dia, diperkirakan akhir tahun 2003 ini perusahaan bisa mencapai release date (masa keterikatan) dengan krediturnya. Dengan begitu, perusahaan akan bisa menggunakan dana perusahaannya dengan lebih leluasa tanpa adanya ikatan dengan kreditur, misalnya untuk membayar deviden.
Budi yakin, dengan kinerja perusahaan hingga kuartal pertama ini, pada akhir tahun 2003 perusahaan akan mampu memberikan deviden, yang belum mampu dibayarkan sejak enam tahun terakhir. " Kami sangat yakin, untuk 2003 bisa memberikan deviden," kata dia. Hingga 31 Maret, lanjut dia, perusahaaan mencatat keuntungan sebesar 800 miliar. Dalam kesempatan ini ia didampingi oleh jajaran direksi perusahaan seperti Michael Dharmawan R., D. Walla, Kour N. T., John S. A. Slack, Prijono Sugiarto, dan Gunawan G. H. Selain itu juga terlihat Presiden Komisaris TP. Rachmat.
Dengan pelepasan saham ini, komposisi saham Astra di TAM bagian manufaktur tinggal 5 persen. Oleh karena itu, perusahaan, lanjut Budi, akan berkonsentrasi pada bidang pemasaran dan distribusi kendaraan bermotor merek Toyota, bekerjasama dengan TMC. Penjualan saham Astra ini tidak merubah komposisi kepemilikan sahamnya di TAM distribusi, yang mencapai mayoritas 51 pesen. Sedangkan 49 persen dimiliki oleh JMC. Ia mengaku yakin, pembelian saham Astra oleh JMC menunjukkan minat perusahaan asing itu untuk mengembangkan industrinya di Indonesia.
"Pasti Toyota punya rencana untuk memakai Indonesia sebagai salah satu base production dari model tertentu Toyota," kata dia optimis. "Produk dari Indonesia akan bisa ekspor ke negara-negara lain," kata dia. Berdasarkan pembicaraan terakhir dengan Toyota, lanjut dia, ada rencana penambahan Capex secara bertahap antara US$ 200-300 juta. Tambahan investasi ini, lanjut dia, juga akan diikuti oleh beberapa vendor-vendor Toyota untuk model-model baru kendaraan. " Misalnya untuk cetakannya, mereka harus lakukan investasi," kata dia.
Bisnis distribusi kendaraan merek Toyota yang akan digeluti Astra ke depan, kata Budi, tergantung pada produk-produk baru kendaraan keluaran produsen mobil terkemuka Jepang itu. Hingga saat ini, Budi mengakui bahwa model kijang buatan Toyota terbilang jenis lama. Sementara dari jenis sedan, yang terbilang baru adalah sedan mini Vios, yang dilempar ke pasar dua pekan lalu. Ditanya berapa model baru yang akan dipasarkan dalam dua tahun ke depan, Budi mengelak. " Tunggu aja nanti," katanya.
Sedangkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan yang diadakan beberapa saat sebelum RUPSLB, dua orang komisaris mengundurkan diri, yaitu Sri Mulyani Indrawati dan Vimala Menon. Sedangkan salah satu komisaris baru adalah Marie Elka Pangestu, yang juga dikenal sebagai ekonom.
(Budi Riza--TNR)