TEMPO Interaktif, Jakarta:Kasus bentrokan antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan pasca kedatangan Presiden Abdurrahman Wahid terjadi pada Jumat (9/3) pukul 02.00 WITA, merenggut 17 korban, sembilan di antaranya adalah anggota aparat keamanan. Hal ini dikatakan Kapuspen Mabes Polri Irjen (Pol.) Didi Widayadi, di Mabes Polri, Jakarta, Jumat (9/3). Menurut dia, seorang anggotanya yakni Brigadir Satu Yulianto Oneng meninggal akibat keroyokan massa.
Selain Yulianto, tercatat tiga aparat luka berat dan lima orang luka ringan. Sampai Jumat sore, Brigda Teguh dari Polda Kalteng dan Bharada dari Satwal Polda Kalteng masih dirawat intensif di rumah sakit setempat. Sementara dari para demonstran jatuh korban delapan orang, di mana empat orang meninggal dunia.
“Dari kerusuhan tersebut sampai hari ini kami maih menahan empat orang yang diduga keras terlibat langsung dalam tindakan pengeroyokan yang mengakibatkan jatuh korban,” tegas Kapuspen.
Kerusuhan tersebut jelas Kapuspen terjadi tidak lama setelah bapak presiden meninggalkan rumah jabatan Gubernur Kalteng, menuju Bandara. Dimana pada awalnya para pengunjuk rasa melempari mobil presiden dengan batu dan hal itu dicegah oleh petugas keamanan. “Masa semakin beringas dan terjadilah bentrokan yang mngakibatkan jatuh korban,”tegasnya.
Sementara situasi Palangkaraya sampai pukul 15.00 siang ini masih diberlakukan Siaga I dan jam malam sampai situasi terkendali. Beberapa kekuatan aparat keamanan disebarkan ke daerah terpencil untuk mencari sisa pengungsi yang masih berada di hutan. Untuk mengantisipasi ancaman-ancaman lain yang melahirkan kerusuhan baru Kapuspen tetap menginstruksikan tindakan tegas. “Instruksi penindakan tegas yang diamanatkan Kapolri masih berlaku,” tegasnya.
Sedangkan situasi di Sampang Madura sampai hari ini masih dalam pengawasan pihak keamanan menyusul penganiayaan dua orang etnis suku dayak yaitu Ugun dan Moris yang tewas saat mengantar isterinya di desa Ketapang, Laok, Sampang, Jumat pagi tadi.
“Masalah Sampang sudah dapat dikendalikan dan kami telah melakukan operasi khusus guna mencegah terjadinya kerusuhan lain di Jawa,”tegasnya. Tetapi Kapuspen belum bersedia menjelaskan berapa pelaku kerusuhan tersebut yang ditangkap. (Cahyo)