TEMPO Interaktif, Jakarta:PSM Makassar, mengalahkan Petrokimia Putra dengan skor 3-1 dalam pertandingan lanjutan kompetisi Liga Indonesia Bank Mandiri VII di Stadion Matoangin, Makassar, Minggu (11/2) malam. Ketiga gol PSM itu tercipta melalui bunuh diri pemain belakang Petro, Rozidin pada menit 12, tembakan Kurniawan Dwi Yulianto (37) dan melalui pemain asing asal Kamerun Fouda Ntsama (78). Satu-satunya gol Petro lahir melalui kaki Zainul pada menit 52 lewat titik penalti.
Pertandingan kedua tim wilayah timur ini berlangsung dalam tempo sedang. Tuan rumah PSM yang memiliki sejumlah pemain bintang seperti Kurniawan, Bima Sakti, Carlos Demelo dan Fouda Fouda Ntasama terlihat bermain kurang ngotot dibandingkan saat menghadapi Persebaya pekan lalu. Padahal, kondisi cuaca yang cerah ikut mendukung kondisi lapangan dan pertandingan itu.
Gol pertama PSM tercipta melalui kelengahan pemain belakang Petro. Rozidin yang berada di barisan pertahanan mencoba menghalau bola ke luar lapangan. Namun tindakannya itu justru menjadi bumerang dan bola bersarang di gawangnya sendiri sehingga menjadikan skor 1-0 untuk PSM.
Ketinggalan satu gol membuat anak-anak Petro mencoba bangkit. Tekanan demi tekanan dibangun untuk mencoba membongkar lapisan pertahanan PSM yang dikawal Ronny Ririn. Sayangnya, serangan tersebut bisa dipatahkan. Justru pada menit 37, Kurniawan mampu menambah gol bagi timnya setelah tembakannya gagal ditepis kiper Petro. Kedudukan 2-0 untuk PSM bertahan hingga babak pertama berakhir.
Memasuki babak kedua, Petro mencoba mengendalikan permainan. Meski sekitar 15 ribu penonton mendukung penuh tim tuan rumah, anak-anak tim Panzer ini masih terus melakukan tekanan. Hasilnya, pada menit 52 Petro mampu mencetak gol meski melalui tembakan penalti. Wasit Raymond menghadiahi penalti setelah Bima Sakti mengganjal salah seorang pemain Petro di kotak penalti. Zainul yang dipercaya menjadi eksekutor mampu menjalankan tugasnya dengan baik sehingga skor berubah menjadi 2-1.
Sayangnya, Petro gagal menambah gol dan justru PSM yang memperbesar kemenangannya menjadi 3-1. Ini terjadi setelah Fouda Ntasama melesakkan gol di gawang Petro. Kedudukan tersebut bertahan hingga pertandingan berakhir. Wasit Raymond dari Manado mengeluarkan dua kartu kuning masing-masing kepada Bima Sakti (PSM) dan Rozidin (Petro).
Meski memenangkan pertandingan, kubu PSM menyatakan tidak terlalu puas. Pelatih Tim “Julu Eja” ini, Henk Wullems menilai anak asuhannya tidak bermain maksimal.
Bahkan pelatih asal Belanda ini menilai Bima Sakti cs bermain lamban. “Saya
heran anak-anak kelihatannya malas dalam mengejar bola,” kata Wullems dengan
nada kecewa.
Sebaliknya, pelatih Petro, Sanusi Rahman menganggap timnya sudah bermain
maksimal dan kekalahan yang dialami hanya karena kurang beruntung. Baginya,
pemain Petro sudah berjuang maksimal. Bahkan dia menganggap Khusairi dkk
mampu merepotkan tim tuan rumah yang didukung oleh suporter fanatiknya.
“Anak-anak bermain tanpa beban sepanjang pertandingan berlangsung. Gol bunuh
diri itu betul-betul adalah kecelakaan karena tendangan pemain belakang kami
sebenarnya tidak kencang. Yang pasti, tim kami sudah menunjukkan permainan
yang baik dan bersikap sportif di lapangan,” kata Sanusi yang juga mantan
pemain PSM di tahun 70-an ini. (Syarief Amir)