TEMPO Interaktif, Jakarta:Sekitar 30 suporter Persebaya mendemo pengurus PSSI di Hotel Bumi Karsa, Jakarta, Selasa (9/1) siang. Unjuk rasa digelar di tengah pertemuan Pengurus PSSI yang sedang membahas persiapan terakhir menjelang bergulirnya Liga Indonesia (LI) Bank Mandiri ketujuh. Kompetisi LI Bank Mandiri sendiri dijadwalkan akan mulai digelar 14 Januari 2001.
Para suporter tersebut datang dan langsung berkumpul di ruang pertemuan. Mereka mengenakan berbagai atribut suporter Persebaya sambil terus meneriakan yel-yel “Hidup Persebaya!”. Mereka menuntut agar kasus Uston Nawawi segera dituntaskan dan Uston dikembalikan ke Persebaya.
Kasus Uston Nawawi sampai sekarang masih berlarut-larut. Ini berawal ketika pemain Persebaya itu dipinjamkan kepada PSM untuk menghadapi Liga Champion Asia. Namun belakangan diketahui, Uston mengikat kontrak pula dengan PSM untuk menghadapi putaran Liga Bank Mandiri ketujuh. Persebaya tidak menerima hal tersebut, dan menganggap pemain tersebut masih menjadi milik mereka.
Atas kasus tersebut, para pendukung Persebaya itu juga meminta Ketua Umum PSSI Agum Gumelar memecat Andi Darussalam Tabusala, salah seorang pengurus PSSI yang menangani kasus Uston Nawawi. Mereka menganggap Andi Darussalam mencla-mencle dan cenderung membela PSM.
Para pendemo sempat memaksa masuk ke ruang pertemuan, namun gagal karena pintu digembok dari dalam. Akhirnya mereka menunggu sampai pertemuan selesai.
Seusai pertemuan, Agum Gumelar langsung menemui para pendemo tersebut. Ia mengatakan bahwa tindakan para pendemo tidak perlu dilakukan karena sampai sekarang PSSI masih memproses kasus Uston. Dan belum ada keputusan. Nantinya, janjinya, keputusan akan dibuat sebijaksana mungkin.
Soal tuntutan pemecatan Andi Darusalam, Agum menyatakan bahwa hal itu hanyalah persoalan miscommunication saja. Pernyataan-pernyataan Andi yang dimuat di media, dan dinilai merugikan Persebaya, menurut Agum adalah kesalahan interpretasi wartawan. (Nurdin Saleh)