|
Utang Makin Menumpuk, CGI Jalan Terus
Rabu, id 26-0 | 18:33 WIB
Walau beban utang makin berat, pinjaman Consultative Group on Indonesia (CGI) masih dibutuhkan. Sehari setelah berakhirnya sidang CGI ke-13 di Jakarta, Desember 2003, Wakil Presiden ketika itu, Hamzah Haz, pernah mengatakan: “Pinjaman dari Consultative Group on Indonesia (CGI) masih dibutuhkan untuk pembangunan setelah selesainya program dengan Dana Moneter Internasional (IMF). Pada 19-20 Januari ini, kembali CGI mengadakan pertemuan untuk kesekian kalinya. Sejak kapan forum CGI dibentuk dan sudah berapa besar komitmen utang yang diberikan? Bagaimana respons tokoh-tokoh kritis dan lembaga swadaya masyarakat?
Dibentuk pada 1992, CGI merupakan konsorsium negara-negara dan lembaga-lembaga kreditor dan donor untuk Indonesia, sebagai pengganti konsorsium serupa: Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI). CGI terdiri dari sekitar 30 kreditor bilateral dan multilateral antara lain World Bank, Asian Development Bank (ADB), Dana Moneteri Internasional (IMF), dan lain-lain.
Indonesia membutuhkan CGI dalam rangka memperoleh utang. Sebagian besar dari utang tersebut untuk menutupi defisit anggaran (APBN). Sebagai contoh, komitmen bantuan baik bilateral maupun multilateran dari forum CGI 2004 sebesar US$ 3,350 juta. Dari jumlah total tersebut, untuk membiayai defisit APBN 2004 sebesar US$ 2,8 juta. Sisanya sebesar US$ 0,6 juta merupakan bantuan yang tidak dipergunakan untuk membiayai defisit anggaran; bentuk bantuan berupa kredit ekspor serta bantuan teknis untuk pemda dan LSM.
Untuk mendapatkan utang, tentu saja tidak mudah. Mesti melewati proses, pertama, pemerintah berkonsultasi dengan CGI. Melalui proses konsultasi inilah akan dihasilkan penilaian terhadap kinerja ekonomi Indonesia. Dan dinilai juga bagaimana kemampuan pemerintah Indonesia memenuhi persyaratan-persyaratan yang telah disepakati pada pertemuan CGI sebelumnya. Inilah yang dipakai pijakan CGI untuk menentukan besarnya pinjaman berikut persyaratan selanjutnya.
Factsheet Lembaga Keuangan Internaional (LKI) yang berkantor pusat di Inggris mencatat bahwa persyaratan yang diajukan oleh forum CGI sama dengan agenda IMF—padahal Indonesia telah menyelesaikan programnya dengan IMF. Persyaratan tersebut, antara lain, tetap melanjutkan target privatisasi, penjualan aset negara, pengurangan subsidi untuk sektor publik, penghapusan bea impor untuk pertanian dan perkebunan, desentralisasi, reformasi sektor kehutanan. “Maka yang terjadi adalah pengalihan utang dan persyaratan dari IMF kepada CGI dan Bank Dunia,” kritik Factsheet di websitenya.
Utang Indonesia sampai saat ini sudah sangat besar. Factsheet LKI mencatat bahwa awal tahun 2004, utang Indonesia mencakup utang luar negeri sebesar US$ 77,1 miliar dan utang domestik sebesar US$ 68,9 miliar. Data pada September 2004, jumlah total utang Indonesia, baik utang luar negeri maupun utang domestik, mencapai Rp 1.336,425 triliun (dengan kurs US$ 1 sama dengan Rp 9.170). Pinjaman dari CGI pun dari tahun ke tahun bukan makin berkurang besarnya. Pinjaman yang diperoleh dari forum itu pada 2004, misalnya, lebih besar dari tahun sebelumnya. Maka itu dalam sebuah artikelnya di sebuah media nasional, Kwik Kian Gie menunjukkan data betapa Indonesia terperangkap ke dalam jurang utang. Pembayaran bunga utang saja sudah sebesar 92,67% dari seluruh anggaran pembangunan yang sebesar Rp 70,9 triliun. Kalau seluruh beban utang dihitung, akan menghabiskan 185% dari seluruh anggaran pembangunan. Angka yang fantastik. Suatu ketika, kepada TNR, Kwik berujar: “Setiap tahun utang terus, lama-kelamaan utang tersebut menjadi beban yang berat.”
Jaringan Kerja Lembaga Non-pemerintah INFID tak bosan-bosannya menyampaikan kritik terhadap CGI. Menanggapi komitmen utang dari sidang CGI ke-13, 10-11 Desember 2003, INFID menilai pinjaman baru tersebut bukan solusi terhadap pembiayaan pembangunan. Untuk tahun 2004, komitmen pinjaman dari CGI sebesar US$ 3,4 miliar. Menurut INFID itu justru menambah beban utang luar negeri Indonesia. Itu karena utang luar negeri yang selama ini dikucurkan kepada Indonesia tidak efektif mengangkat sektor riel. Dalam catatan INFID, beban utang itu akan mengurangi pos-pos anggaran untuk sektor pendidikan dan kesehatan sampai 30%.
Utang luar negeri tak membantu karena sifatnya yang mengikat. Pengucurannya pun tak selalu berbentuk kas tapi proyek yang juga ditentukan oleh negara donor. "Ujung-ujungnya uang tersebut kembali ke mereka juga," kata Binny.
Masalah beban utang, dalam beberapa sidang CGI sebelumnya, tidak diagendakan untuk dibahas. Menurut evaluasi INFID atas hasil sidang CGI ke-11, November 2001, hal ini sebagian besar disebabkan oleh sifat dari forum CGI sendiri, yakni masih merupakan forum yang disetir oleh donor/kreditor, ketimbang forum yang disetir oleh Indonesia. “Forum CGI diketuai oleh Bank Dunia. Analisis dan proyeksi ekonomi IMF dan Bank Dunia menjadi dasar pemberian bantuan dan utang,” tulis INFID dalam laporannya.
Kalau sudah terbelit utang, akan sulit lepas dari jerat. Hamzah Haz sendiri, ketika masih wapres, pernah menegaskan, Indonesia sulit lepas dari pijaman luar negeri karena beban utangnya terlalu berat.
Utang Pemerintah Berdasarkan Kreditor
(juta US$)
2002 2003 2004
Jepang 25.286 28.421 26.587
Amerika 3.984 4.146 4.875
German 3.627 4.339 4.072
Prancis 2.328 2.775 2.615
IBRD 10.802 9.776 8.823
ADB 8.310 8.582 8.365
Lainnya 20.160 22.870 21.645
Total 74.497 80.910 76.980
Komitmen Bantuan Luar Negeri dari Forum CGI
(juta US$)
Bilateral Multilateral Total
1997/1998 3.456,7 3.036,6 6.493,3
1998/1999 2.305,0 5.589,0 7.894,0
1999/2000 1.633,7 4.224,0 5.857,7
2000 2.006,0 2.721,0 4.727,0
2001 2.339,7 3.034,3 5.374,0
2002 971,0 2.169,7 3.140,7
2003 964,0 1.765,0 2.729,0
2004 - - 3.350,0
2005* - - 3.098,0
* usulan
ngarto februana – pdat/berbagai sumber
|